25 November 2012

Review artikel : Formulation and Evaluation of pH-triggered In Situ Gelling System of Levofloxacin


1.      Pengaruh pH pada sediaan tetes mata
            Idealnya pH sediaan tetes mata harus ekuivalen dengan cairan mata, yaitu 7,4. Dalam pemilihan pH perlu yang dipehatikan yaitu pH optimum untuk kestabilan zat aktif dan bersifat inert. Untuk mencapai pH tersebut dapat ditambahkan agen pendapar dan perlu diperhatikan kesesuaian dan kestabilannya. Bila digunakan sistem dapar, dimana pemilihan dapar tidak menyebabkan presipitasi atau menurunkan aktivitas zat aktif (WHO, 2003). Dapar digunakan dalam suatu larutan untuk mata karena beberapa alasan antara lain: untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien, untuk menjamin kestabilan obat, dan untuk mengawasi aktivitas terapetik bahan obat (Ansel, 2008). Zat pendapar dapat digunakan dapar yang cocok dengan pH 6,5 dan dibuat isotonis dengan menggunakan natrium hidroksida secukupnya (DepKes RI, 1979). 
Air mata mempunyai kapasitas dapar tertentu. Penggunaan obat mata akan merangsang pengeluaran air mata dan penetralan cepat setiap kelebihan ion hidrogen atau ion hidroksil dalam kapasitas pendaparan air mata. Jika hanya satu atau dua tetes larutan yang mengandung
Read more »

24 November 2012

Artikel : Leukemia Limfatik Akut/ALL


Leukemia
Sel darah terbentuk dari pembelahan dan pendewasaan sel induk yang mampu memperbaharui diri yang berada pada sumsum tulang dan menumbuhkan sel-sel pendahulu dengan tujuan mematangkan sel-sel pendahulut tersebut. Dengan cara ini, pada orang dewasa tiap harinya dapat terbentuk rata-rata 1011 granulosit, 2x1011 trombosit dan 2x1011 eritrosit. Produksi sel darah menunjukkan secara permanen besarnya aktivitas. Karena jangka hidup sel darah terbatas, sumsum tulang harus bekerja secara maksimal (Wagener et al., 1996).
Leukemia merupakan salah satu jenis kanker dimana terjadi proliferasi dan pendewasaan salah satu sel induk sumsum tulang atau sel pendahulu yang keluar dari aturan. Sel induk yang mengalami transformasi maligna ini menumbuhkan keturunan sel dengan berbagai kelainan. Sel-sel yang menumpuk ini menentukan ciri-ciri klinis leukemia. Dalam perjalanan penyakit sel-sel ini mengganggu pembuatan sel darah normal, sehingga dapat menimbulkan kekurangan darah, granulositopenia dan trombositopenia (Wagener et al., 1996).
Read more »

Review Jurnal : “Pola Distribusi Alotip Gen Polymeric Immunoglobulin Receptor (PIGR) pada Penderita Karsinoma Nasofaring (KNF) di Indonesia”


Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaing dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring. KNF merupakan penyakit genetik multifaktor dengan karakteristik endemik. Tingginya insiden KNF di Negara-negara Asia  menimbulkan dugaan bahwa faktor genetik ikut berperan dalam patogenesis penyakit. Catatan dari berbagai rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan keempat setelah kanker leher rahim, payudara, dan kulit. Selain faktor ras, makanan (makanan yang diawetkan, difermentasi, dan diasapi)  erat kaitannya dalam peningkatan insidensi KNF.
Read more »

Artikel : Recycle Sampah Limbah Pertanian




Di era sekarang ini adannya sampah telah cukup mengganggu keindahan kota. hal itu dikarenakan jumlahnya yang sudah menumpuk tanpa adanya keseimbangan daur ulang yang dapat dilakukan. Jenis sampah dibagi menjadi dua, yaitu organic dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dapait diuraikan oleh bakteri-bakteri pengurai sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat diurakan oleh bakteri pengurai. Jadi, sampah anorganik tidak dapat membusuk meskipun dalam ,waktu yang lama contohnya plastik.Dalam focus kali ini akan membahas daur ulang sampah organik. Daur ulang sampah organik sangat diperlukan saat ini. Ribuan bahkan jutaan ton sampah dibuang setiap harinya. Oleh karena itu, kita dapat memulai mendaur ulang sampah-sampah yang ada disekitar kita seperti sampah organik. Sampah organic terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau yang didapat dari hasil pertanian, perikanan dsb.
Read more »