24 November 2012

Artikel : Recycle Sampah Limbah Pertanian




Di era sekarang ini adannya sampah telah cukup mengganggu keindahan kota. hal itu dikarenakan jumlahnya yang sudah menumpuk tanpa adanya keseimbangan daur ulang yang dapat dilakukan. Jenis sampah dibagi menjadi dua, yaitu organic dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dapait diuraikan oleh bakteri-bakteri pengurai sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat diurakan oleh bakteri pengurai. Jadi, sampah anorganik tidak dapat membusuk meskipun dalam ,waktu yang lama contohnya plastik.Dalam focus kali ini akan membahas daur ulang sampah organik. Daur ulang sampah organik sangat diperlukan saat ini. Ribuan bahkan jutaan ton sampah dibuang setiap harinya. Oleh karena itu, kita dapat memulai mendaur ulang sampah-sampah yang ada disekitar kita seperti sampah organik. Sampah organic terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau yang didapat dari hasil pertanian, perikanan dsb.
Contoh dari sampah ini adalah daun-daunan, sisa makanan, kulit buah dll. Selama ini metode yang digunakan untuk mengolah aneka limbah oganik tersebut adalah dengan cara membusukkan limbah tersebut untuk mendapatkan kompos. Pada proses ini, akan ada energi organik yang terbuang dalam bentuk panas dan gas ( hidrogen sulfida, amonia merkaptan dan gas beracun lainnya ). Polusi yang terjadi mencakup udara, tanah dan air yang terjadi dari proses pembusukan bahan organik, karena aktifitas dari mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi hewan dan manusia seperti : Salmonella, Escherischia coli dll. Pencemaran secara kimia terjadi karena pelepasan ion negatif dari proses pembusukan yang membentuk gas-gas dan senyawa beracun. Proses pembusukan organik berlangsung 2 – 3 bulan. Proses ini bisa berlangsung lebih lambat karena penambahan bahan organik secara terus menerus serta tidak adanya peran mikroorganisme fermentasi. Itulah sebabnya mengapa di tempat pembuangan gas busuk secara terus menerus dihasilkan dalam radius 5 km (Siswomusodo, 2011).
Banyak jenis limbah organik yang mempunyai emisi gas yang sangat beracun, sehingga pada pengolahan limbah jenis tersebut harus menggunakan sistem penanganan gas. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa dihasilkan bau yang dapat menjadi polusi udara yang menimbulkan masalah baru. Diperlukan solusi/penanganan baru yang dapat mengatasi masalah pengolahan limbah organik perkotaan (sampah pasar, daun-daunan, bekas upacar adat, dll).
Limbah tersebut tidak hanya bersala dari pasar maupun dari limbah rumah tangga. Limbah pun bisa berasal dari pertanian seperti limhah tongkol jagung, limbah jerami, dan lain-lain.    
1. Terdapat beberapa solusi/penanganan limbah organik yang dapat diterapkan untuk pengolahan limbah organik yaitu dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu mengolah/mendgradasi limbah organik tanpa menimbulkan masalah baru. Berikut beberapa aplikasi pemanfaatan mikroorganisme dalam pengolahan limbah organik :
a. Biodegradasi limbah padat organik secara anaerob : proses semi kontinyu
Sumber mikroorganisme yang digunakan : bakter methan yang diisolasi dar intestinal hewan sapi
Diinokulsi ke dalam reactor anaerob dengan suspensi sampah besar sebagai bahan baku.
Kemudian sampel berupa sampah organik diambil dari pasar tradisional. Kemudian sampah organik terlebih dahulu diiris kemudian digiling menjadi suspensi. Kemudian dilakukan penambahan air dan selanjutnya di masukkan ke dalam bioreactor. Biogas yang dihasilkan di ukur dengan gas meter. Dari penelitian ini didapatkan gas metan berkisar diatas 60% dari smapel sampah organik yang digunakan dan dapat membantu mempercepat degradasi sampah organik dan mengurangi volume sampah organik menuju TPS (tempat Pembuangan Sampah) (Sriwuryandari, 2009).
b. Biokonversi Selulose dari Limbah Tongkol Jagung Menjadi Glukosa Menggunakan Jamur Aspergilus Niger
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh glukosa dari tongkol jagung melalui proses hidrolisa enzimatis menggunakan enzim selulose dari jamur Aspergilus niger
Mikroorganisme yg digunakan : Aspergilus Niger
Teknik isolasi dan pertumbuhan : Medium agar miring yang digunakan dalam pemeliharaan Aspergilus niger adalah PDA (potato Dextrose Agar).  Bahan ini dilarutkan dalam aquadest 1,9 g/ml, lalu dipanaskan sampai larutan menjadi homogen. Media kemudian dituangkan kedalam tabung reaksi (± 5 ml) dan disterilisasi dengan menggunakan autoclave pada suhu 121oC selama ± 15 menit. Setelah disterilisasi, tabung-tabung reaksi tersebut diletakkan dalam posisi miring dan dibiarkan agar-agar memadat. Selanjutnya dilakukan inokulasi Aspergilus niger pada agar miring tersebut. Substrat yang digunakan untuk pertumbuhan Aspergilus niger dedak gandum. Substrat yang sudah dikeringkan kemudian digiling sampai ukuran partikel sebesar 40 mesh. Untuk media diambil 10 g tepung substrat dari dedak gandum, kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer 300 ml dan ditambahkan larutan nutrisi. Biakan Aspergilus niger pada agar miring diberi aquadest sebanyak 10 ml. Jamur dilepaskan dengan menggunakan jarum ose, lalu dikocok dan dipindahkan ke tabung lain yang sudah disterilkan. Suspensi jamur yang digunakan ditentukan konsetrasinya menggunakan TPC (Total Plate Counting) dengan jumlah 107 – 108 spore /ml. Suspensi jamur sebanyak 2 ml yang diperoleh diinokulasikan kedalam susbtrat steril yang sudah tersedia, kemudian diinkubasikan kedalam inkubator pada suhu  35oC selama 2, 4 dan 6 hari. Media fermentasi yang sudah ditumbuhi Aspergilus niger kemudian ditambahkan 100 ml buffer asetat pH 4,8 yang mengandung 0,1 % Tween 80. Cairan enzim diaduk dan dikocok dengan pengocok shaker pada 200 rpm selama 2 jam kemudian disentrifuge pada 900 rpm selama 180 menit (Soeprijanto, 2012). Dengan adanya penelitian ini maka limbah tongkol jagung dapat dimanfaatkan untuk dapat menghasilkan glukosa dengan bantuan Aspergilus Niger.
c. Metode land fill system
Metode land fill system sampai saat ini masih merupakan cara yang diunggulkan, sekalipun hanya dapat mengurangi bau kurang dari 40 %. Dan masalah ini tidak akan pernah tuntas mengingat bau adalah gas yang bersifat ringan dan segera mengisi ruang Siswomusodo, 2011).
d. Pemanfaatan jerami dan sampah sawi hijau dalam memproduksi Biogas
Mikroorganisme yang digunakan adalah bakter EM-4
Teknik isolasi dan pertumbuhan : Starter inokulum berasal dari cairan hasil biodigester Kebun Pendidikan dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM, Brebah,  Sleman. EM-4 diproduksi oleh PT Songgolangit Persada, Jakarta. EM-4 mengandung bakteri fermentasi dari genus Lactobaccilus, jamur fermentasi, Actinomycetes, bakteri pelarut fosfat dan ragi (Herawati,2010).


2. Plot plan penanggulangan krisis energi berbasis fosil:
a. memanfaatkan limbah padat organik untuk dapat menghasilkan energi sehingga dapat menghemat penggunaan energi yang kini sudah mulai menipis seperti pada aplikasi pengolahan limbah padat yang diperkenalkan pada jurnal ”Biodegradasi limbah padat organik secara anaerob : proses semi kontinyu”
b. Memanfaatkan limbah jerami dan sampah sawi hijau dalam memproduksi bogas sehingga dapat di hemat penggunaan energy yang berbasis fosil  


 
.   






















Daftar Pustaka

Herawati, D A dan  Andang A W. 2010. Pengaruh Pretreatment Jerami Padi pada Produksi Biogas dari Jerami Padi dan Sampah Sayur Sawi Hijau Secara Batch. Jurnal Rekayasa Proses Vol. 4, No. 1

Siswomusodo, Gadis Madadeta. 2011. Pentingnya Daur Ulang Sampah Organik. Semarang : Fakultas Kedokteran UNDIP

Soeprijanto; Tianika Ratnaningsih dan Ira Prasetyaningrum. 2012. Biokonversi Selulose dari Limbah Tongkol Jagung Menjadi Glukosa Menggunakan Jamur Aspergilus Niger. Surabaya. Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Sriwuryandari, Lies dan T. Sembiring. 2009 Biodegradasi limbah padat organik secara anaerob : proses semi kontinyu. Jurnal Teknologi Indonesia. 32 (2) 2009 ; 79-84

1 comments:

Fivdika Heiden said...

artikelnya sangat bermanfaat, informasi yang disampaikan sangat jelas dan mudah di pahami. kebutulan kami pun membahas  Instalasi Pengolahan Air Limbah dan merupkan Konsultan Ipal . kunjungin web kami disini

Post a Comment