7 December 2011

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)



Penyakit kelamin (Veneral Diseases) sudah lama dikenal dan beberapa diantaranya sangat poluler di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat, banyak ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually Transmitted Diseases (STD) atau penyakit Menular Seksual (PMS).
            Perubahan istilah tersebut memberi dampak terhadap spektrum PMS yang semakin luas karena selain penyakit-penyakit yang termasuk dalam kelompok Penyakit Kelamin (VD) yaitu sífilis, gonore, ulkus mole, limfogranuloma venerum dan granuloma inguinale juga termasuk uretritis non gonore (UNG), kondilotama akuminata, herpes giniitalis, kandisosis, trikomoniasis, bacterial vaginosis, hepatitis, moluskum kontagiosum, skabies, pedikulosis, dan lain-lain.
            Peningkatan incidens PMS dan penyebaran di seluruh dunia, tidak dapat diperkirakan secara tepat. Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaannya program penyuluhan yang intensif akan menurunkan insidens PMS atau paling tidak insidensnya relatif tetap. Namun demikian, disebagian besar negara insidens PMS relatif masih tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru besrta komplikasi medisnya anatara lain kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan pertumbuhan, kanker, bahkan juga kematian memerlukan penanggulangan sehingga hal i9ni akan meningkatkan biaya kesehatan. Selain itu pola infeksi juga mengalami perubahan, misalnya infeksi Klamidia, Herpes genital, dan kondilomata akuminata dibeberapa negara cenderung meningkat dibanding uretritis gonore dan sífilis. Beberapa penyakit infeksi sudah resisten terhadap antibiotik, misalnya munculnya galur multiresisten Neisseria gonorrhoeae, Hemophylus ducreyi dan Tricomonas vaginalis yang resisten terhadap metronidazole.Perubahan pola infeksin maupun resistensi tidak terlepas dari factor-faktor yang mempengaruhinya.   





FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
Perubahan pola distribuís maupun pola prilaku penyakit tersebut diatas tidak terlepas dari factor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu :
1.      Faktor Dasar
  1. Adanya penularan penyakit
  2. Berganti-ganti pasangan seksual
2.      Factor Medis
  1. Gejala klinis pada wanita dan homosexual yang asimtomatis
  2. Pengobatan modern
  3. Pengobatan yang mudah, murah, cepat dan efektif, sehingga resiko resistensi tinggi, dan bila disalahgunakan akan meningkatkan resiko penyebaran infeksi.
  4. Kontrasepsi modern
3.      IUD dan Pil KB hanya bermanfaat bagi pencegahan kehamilannya saja, berbeda dengan kondom yang juga dapat digunakan sebagai alat pencegah terhadap penularan infeksi PMS
4.      Faktor Social
  1. Mobilitas penduduk
  2. Prostitusi
  3. Waktu yang santai
  4. Kebebasan individu
  5. Ketidaktahuan

Selain faktor-faktor tersebut diatas masih ada faktor lain yang mempengaruhi perbedaan prevalensi antara negara maju dan berkembang :
1.      Diagnosis yang kurang tepat karena keterbatasan saran penunjang
2.      Komplikasi lebih banyak ditemukan di negara berkembang, karena keterlambatan diagnosis dan pengobatan.
Yang tidak kalah penting adalah perubahan dinamis yang terjadi dimasyarakat, baik perubahan demografi maupun sosio budaya, akan mempengaruhi penyebaran PMS, termasuk AIDS. Di negara Industri, insidens PMS klasik seperti gonore dan sifilis menurun dengan cepat terutama pada masyarakat kelas menengah dan atas, sedangkan pada masyarakat bawah insidens penyakit tersebut tetap stabil bahkan cenderung meningkat, demikian pula umumnya di negara berkembang.
Peningkatan insidens PMS tidak terlepas kaitannya dengan prilaku resiko tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa penderita sifilis melakukan hubungan seks rata-rata sebanyak 5 pasangan seksual yang tidak diketahui asal-usulnya, sedangkan penderita gonore melakukan hubungan seks dengan rata-rata 4 pasangan seksual. Demikian juga halnya antara PMS dan pecandu narkotika, terlihat bahwa 28% penderita sifilis, dan 73 % penderita gonore melakukan hubungan promiskuiti karena ketagihan narkotika. Riwayat promiskuiti atau berganti-ganti pasangan seksual juga ditunjukkan penderita sero positif sifilis yang mempunyai pasangan seksual lebih dari 2 orang, sedangkan yang sero negatif hanya 1 orang atau tidak pernah hubungan seksual.

KELOMPOK PRILAKU RESIKO TINGGI
            Dalam PMS yang dimaksud dengan prilaku resiko tinggi ialah prilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai resiko besar terserang penyakit.
Yang tergolong kelompok resiko tinggi adalah :
  1. Usia
a.       20-34 tahun pada laki-laki
b.      16-24 tahun pada wanita
c.       20-24 tahun pada kedua jenis kelamin
  1. Pelancong
  2. Pekerja seksual komersil atau wanita tuna susila
  3. Pecandu narkotik
  4. Homoseksual.











I. GONORE

DEFINISI
      Gonore mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Gonore disebabkan oleh gonokok yang ditemuakan oleh Neisser. Kuman tersebut dimasukkan dalam kelompok Neisseria gonorrhoeae. Kuman ini bersifat gram negatif , tampak di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39oC, dan tidak akan menimbulakan reaksi radang. Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang (imatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.

GAMBARAN KLINIS
      Masa tunas gonore sangat singkat, pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama. Pada wanita masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya asimtomatik. Tempat masuk kuman pada pria di uretra menimbulkan uretritis. Yang peling sering adalah yretritis anterior akuta dan dapat menjalar ke proksimal dan dapat menyebabkan komplikasi lokal, asendens serta diseminata. Keluhan subjekstif berupa rasa gatal, panas di bagian distal uretra di sekitar orifisum uretra eksternum, kemudian disusul disuria polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah, dapat pula disertai nyeri pada waktu ereksi. Pada pemeriksaan tampak orifisum uretra eksternum kemerahan, edema, dan ektropion. Tampak pula tubuh yang mukopurulen. Pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral. Infeksi pada wanita pada mulanya hanya mengenai serviks uteri. Dapat asimtomatik kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada pinggul bawah. Pada pemeriksaan serviks tampak merah dengan sekresi dan sekret mukopurulen.Duh tubuh akan terlihat lebih banyak bila terjadi servisitis akut atau disertaivaginitis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.

DIAGNOSIS 
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan pembantu yang terdiri atas beberapa tahapan :
A. Sediaan Langsung
      Pada sediaan langsung denagn pengecatan Gram akan ditemukan gonokok negatif-Gram, intraseluler, dan intraseluler. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar Bartholin, serviks, dan rektum.
B. Kultur
Untuk identifikasi perlu dilakukan kultur (pembiakan). Dua macam media yang dapat digunakan ialah media transpor  seperti media Stuart dan media Transgrow dan media pertumbuhan seperti media Thayer-Martin, Modifikasi Thayer-Martin dan Agar coklat McLeod.
C. Tes  Definitif
1.      Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang mangandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria memberikan reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung.
2.      Tes Fermentasi
Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi menggunakan glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan glukosa.
D. Tes beta-Laktamase
Tes ini menggunakan cefinase TM disc. Apabila kuman yang mengandung enzim beta-laktamase akan menyebabkan perubahan warna dari uk mengetahui kuning menjadi merah.
E. Tes Thomson
      Tes ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung.  Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan :
v  Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi
v  Urin dibagi dalam dua gelas
v  Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II.
Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80-100 ml, jika kurang maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra anterior.



PENGOBATAN
 Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga, dan sesedikit mungkin efek toksiknya. Pemilihan regimen pengobatan sebaiknya mempertimbangkan pula tempat infeksi, resistensi galur N. Gonorrhoeae terhadap anti mikrobial, dan kemungkinan infeksi Chlamydia Trachomatis yang terjadi bersamaan. Oleh karena seringkali terjadi koinfeksi dengan C. Trachomatis maka pada seorang dengan gonore dianjurkan pula untuk diberi pengobatan secara bersamaan dengan rejimen yang sesuai untuk C. Trachomatis.   
      Banyak antibiotika yang aman dan efektif untuk mengobati gonore. Membasmi N. Gonorrhoeae, menghentikan rantai penularan, mengurangi gejala dan mengurangi kemungkinan terjadinya gejala sisa. Pilihan utama ialah Penisilin + probenesid, kecuali di daerah yang tinggi insidens N. Gonorrhoeae penghasil penisilinase (NGPP). Secara epidimiologis pengobatan yang dianjurkan ialah obat denagn dosis tunggal. Macam-macam obat yang dapat dipakai adalah antara lain :
Penisilin
      Yang efektif ialah penisilin G prokain akua. Dosis 3-4,8 juta unit + 1 gam probenesid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis . Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.
Ampisilin dan amoksisilin
      Ampisilin dosisnya ialah 3,5 gram + 1 gram probenesid. Suntikan ampisilin tidak dianjurkan. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.
Sefalosporin
      Seftriakson (generasi ke-3) cukup efektif dengan dosis 250 mg i.m. Sefoperazon denagn dosis 0,50 sampai 1,00 g  secara intramuskular. Dosis ini cukup aman dan efektif untuk mengobati gonore tanpa komplikasi di semua tempat. Obat ini dapat  menutupi gejala sifilis.
Spektinomisin
      Dosisnya ialah 2 gram i.m. baik untuk penderita yang alergi penisilin, yang megalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang juga tersangka menderita sifilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis. Namun obat ini relatif tidak efektif untuk infeksi gonore pada farings.
Kenamisin
Dosisnya 2 gram i.m. Kebaikan obat ini sama dengan spektinomisin. Kontraindikasinya kehamilan
Kuinolon
      Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg, siprofloksasin 250-500 mg, dan norfloksasin 800 mg secara oral. Kuinolon tidak boleh diberikan untuk wanita hamil atau menyusui ataupun orang yang berusia dibawah 17 tahun.
      Obat dengan dosis tunggal yang tidak efektif lagi untuk mengobati gonore saat ini adalah tetrasiklin, streptomisin, dan spiramisin.
      Obat-obat yang dapat digunakan untuk pengobatan gonore denagn galur NGPP adalah Spektinomisin, kanamisin, sefalosporin, ofloksasin, dan tiamfenikol. Peningkatan frekuensi timbulnya galur NGPP ini terjadi begitu cepat dan harus kita waspadai. Karena itu pengobatan gonore dengan penisilin dan derivatnya perlu dipikirkan lagi megenai  efektivitasnya.






















II. INFEKSI GENITAL NON SPESIFIK

DEFINISI
      Infeksi genital non spesifik (IGNS) merupakan satu infeksi traktus genital yang disebabkan oleh penyebab yang non spesifik yang meliputi uretritis nonspesifik, proktitis nonspesifik pada pria homoseksual, dan infeksi nonspesifik pada wanita.Uretritis nonspesifik (UNS) adalah peradangan uretra yang penyebabnya dengan pemeriksaan laboratorium tidak dapat dipastiakn atau diketahui. Uretritis non gonore (UGN) adalah peradangan uretra yang bukan disebabkan oleh kuman N. Gonorrhoeae.

GAMBARAN KLINIK
            Gambaran klinik infeksi pada pria ditunjukkan dengan keluarnya duh tubuh uretra, berupa lendir yang jernih sampai keruh. Keluhan yang paling umum adalah waktu pagi hari, tetapi bisa juga berupa bercak di celana dalam. Nyeri kencing atau disuri  merupakan salah satu keluhan yang banyak dijumpai, dan sangaat bervariasi dari rasa terbakar sampai rasa tidak enak pada saluran kencing waktu mengeluarkan urin, gatal di saluran kencing, bila peradangan hebat maka pada waktu muskulus sfingter uretra berkontraksi timbul pendarahan kecil. Pada pemeriksaan klinis muara uretra tampak tanda peradangan berupa edema dan eritema. Sekret uretra bisa banyak atau sedikit sekali, atau kadang-kadang terlihat pada celana dalam penderita. Sekret umumnya serosa, seromukus, mukous, dan kadang bercampur nanah. Gambaran klinis infeksi pada wanita sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan. Bila ada keluhan berupa du tubuh genital yang kekuningan.

DIAGNOSIS
            Dasar untuk menegakkan diagnosis IGNS adalah pemeriksaan laboratorium berupa apusan sekret uretra/ serviks. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan gram ditemukan leukosit > 5 pada pemeriksaan mikroskopis dengan pembesaran 1000 kali. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan gram ditemukan > 30 leukosit per lapangan padang dengan pembesaran 1000 kali.
      Diagnosis dapat ditegakkan dengan memperhatikan anamnesis, pemeriksaan klinis dan laboratorium aadanya tanda uretritis, serta tidak ditemukan kuman penyebab spesifik.
PENGOBATAN
      Tetrasiklin sampai saat ini masih efektif untuk pengobatan Chlamydia dan Ureaplasma urealyticum. Dosis yang dianjurka adalah 4 kali 500 mg sehari selama 1 minggu atau lebih.
      Eritromicin lebih efektif terhadap Ureaplasma dibandingkan terhadap Chlamydia, dosis yang dianjurkan ialah 4 kali 500 mg selama 1 minggu atau lebih. Obat ini dipakai untuk mengobati wanita hamil denagn IGNS. Doksisiklin merupakan obat yang paling banyak dianjurkan karena cara pemakaian yang lebih mudah dan dosis lebih kecil yaitu 2 kali 100 mg selama seminggu atau lebih.
      Azithromisin merupakan suatu terobosan baru dalam pengobatan masa sekarang, dengan dosis tunggal 1 gram sekali minum dan juga efektif untuk gonore.
      Tetrasiklin, doksisiklin, dan azitromisin tidak boleh diberikan untuk wanita hamil.
Pengobatan Kombinasi
      Sekarang ini diperkenalkan pengobatan kombinasi mengingat insidens infeksi campuran yang cukup banyak, obat yang digunakan ialah :
1.      Thiamfenikol
Dosis 2,5 g hari pertama kemudian 3 kali 500 mg selam 5 hari.
2.      Siprofloksasin 500 mg hari pertama, lalu doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari.
3.      Azithromisin 1 gram dosis tunggal.
Dalam pengobatan IGNS harus dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan terhadap mitra seksual penderita. Penderita dikatakan sembuh bila kontrol setelah pengobatan dilakukan setiap 7 hari sampai 3 kali berturut-turut tidak ditemukan adanya keluhan dan pemeriksaan laboratorium menjadi negatif. Pengobatan IGNS dapat dilanjutkan sampai 4 minggu.








III. TRIKOMONIASIS

DEFINISI
      Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh Trichomoniasis vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada wanita maupun pria namun pada pria peranannya sebagai penyebab penyakit masih diragukan.

GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis trikomoniasis pada wanita tidak merupakan parameter diagnostik yang dapat dipercaya, sering tidak menimbulkan gejala maupun keluhan sama sekali. Bila ada keluhan biasanya berupa duh tubuh vaginal yang banyak dan berbau. Pada pemeriksaan penderita dengan gejala vaginitis akut tampak edema dan eritema pada labium yang nyeri. Sedangkan pada vulva dan paha bagian atas kadang-kadang ditemukan abses-abses kevil dan maserasi yang disebabkan oleh fermen proteolitik dalam duh tubuh.
      Gambaran klinis pada pria memiliki spektrum klinik trikomoniasis yang sangat luas mulai dari tanpa gejala sampai pada uretritis yang hebat dengan komplikasi prostatis. Masa inkubasi tidak melebihi 10 hari. Gambaran klinis dapat dibagi menjadi pembawa kuman asimtomatik, dan simtomatik. Sebagian besar trikomoniasis simtomatik menunjukkan gejala uretritis ringan yang gambaran klinisnya sulit dibedakan dengan UNG. Uretritis oleh karena Trichomoniasis vaginalis pada umunya bersifat self limited. Balanopostitis dapat pula terjadi dan lebih sering pada pria yang tidak disunat dan kurang memperhatikan higiene.

DIAGNOSIS
Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya Trichomoniasis vaginalis pada sediaan langsung atau pada biakan duh tubuh penderita.
Pemeriksaan Laboratorium dilakukan dengan cara:
    1. Sediaan langsung (sediaan basah) dengan larutan garam fisiologis
    2. Bila pada sediaan langsung tidak ditemukan kuman penyebab maka dilakukan biakan pada media Feinberg atau Kupferberg. Biakan diperlukan pada pemeriksaan kasus-kasus asimtomatik.
Trikomoniasis sering tidak terdiagnosis karena banyak kasus asimtomatik. Berbagai usaha telah dilakukan selain pemeriksaan sediaan langsung dan biakan untuk memudahkan diagnosis antara lain dengan pewarnaan dengan pewarna Giemsa, Papani colaou, Leishman, Gram atau acridine orange. Selain dengan pewarnaan dapat juga dilakukan dengan tes imunofluoresens dengan tehnik ELISA, imunofluoresenst antibody, latex agglutination.

PENGOBATAN
            Pengobatan trikomoniasis harus diberikan kepada penderita yang menujukkan gejala maupun tidak. Rejimen yang dianjurkan untuk pengobatan adalah Metronidazol 2 gram oral dosis tunggal, atau 5-nitromidazol 2 gram oral dosis tunggal. Rejimen alternatif adalah metronidazol 2x0,5 gram oral selama 7 hari.
Penderita yang sedang mendapatkan pengobatan metronidazol harus menghentikan minum alkohol. Penderita dikatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang, serta parasit tidak ditemukan lagi pada pemeriksaan sediaan langsung.
            Bila terjadi kegagalan pengobatan maka tahapan pengobatan berikut dapat dilaksanakan yaitu  metronidazol 2 x 0,5 gram oral selama 7 hari dan bila masih gagal dapat diberikan metronidazol 2 gram oral dosis tunggal selama 3-7 hari ditambah metronidazol tablet vaginal 0,5 gream, malam hari selama 3-7 hari. Bila dinyatakan masih gagal juga hendaknya dilakukan biakan dan tes resistensi.
Pengobatan mitra seksual
            Mitra seksual penderita harus diobati sesuai dengan rejimen penderita. Dosis yang dianjurkan untuk mitra seksual pria adalah dosis mutipel selama 7 hari. Efektivitas dosis tunggal belum banyak diteliti.
Pengobatan pada kehamilan
            Kehamilan trimester pertama merupakan kontra indikasi pemberian metronidazol. Sehubungan telah banyaknya bukti-buktiyang mununjukkan adanya kaitan antara iinfeksi Trichomoniasis vaginalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya maka metronidazol dapat diberikan dengan dosis efektif yang paling rendah pada trimester kedua dan ketiga.
Infeksi pada neonatus
            Bayi dengan trikomoniasis simtomayik atau dengan koloni Trichomoniasis vaginalis melewati umur 4 bulan, harus diobati dengan metronidazol, 5mg/kg oral, 3 x sehari selama 5 hari.
Infeksi oleh galur resisten
            Dengan munculnya laporan-laporan mengenai galur Trichomoniasis vaginalis yang resisten terhadap metronidazol, maka dalam menghadapi kegagalan pengobatan selalu harus diperhatikan bahwa pengobatan konvensional sampai saat ini jarang mengalami kegagalan. Berdasarkan resisten terhadap metronidazol, hendaknya disingkirkan terlebih dahulu faktor-faktor yang dapay menimbulkan kegagalan pengobatan yaitu :
    1. Konsentrasi metronidazol yang tidak mencukupi
    2. Inaktivasi metronidazol oleh bakteri
    3. Konsentrasi seng dalam serum yang rendah
    4. Reinfeksi
Konsentrasi obat yang tidak mencukupi dapat disebabkan oleh kurangnya kepatuhan penderita minum obat pada pemberian dengan dosis mutipel atau adanya malabsorbsi. Untuk menghindari kemungkinan inaktivasi metronidazol oleh bakteri maka dapat dicoba pemberian antibiotik dengan spektrum yang luas. Dalam menghadapi kasus yang telah dibuktikan resisten terhadap metronidazol dapat dicoba obat lain misalnya nimorasol, tinidasol, ornidasol, atau karnidasol.

















IV. KANDIDOSIS VULVOVAGINAL

DEFINISI
Kandidiasis vulvovaginal (KVV) atau kandidiasis/kandidosis vaginal adalah infeksi vagina dan/atau vulva oleh kandida, khususnya C. albicans (81%), atau kadang-kadang T. glabrata (16 %). Spesies lain (C.tropicalis, C.stellatoidea, C. pseudotropicalis, C. krusei) sanat jarang, hanya berkisar 3%. Gejalanya berupa keputihan dan gatal pada daerah kelamin. KVV banyak menyerang wanita dalam masa subur, kebanyakan dengan factor resiko yang menyebabkan perubahan dari pembawa (carier) asimtomatik menjadi simtomatik

GAMBARAN KLINIS
            Gambaran klinis KVV adalah keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau. Pada pemeriksaan terdapat vulvitis, denan eritema dan edema vulva, fisura perineal, pseudomembran, dan lesi satelit papulopustular di sekitarnya. Disamping itu terdapat vaginitis dan eksoservisitis baik pada pemeriksaan langsung maupun dengan kolposkopik.

DIAGNOSIS
Keputihan (discharge vagina) dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
  • Langsung disebut vaginitis/vaginosis
  • Tidak langsung disebut servisitis
  • Vaginitis/vaginosis dan servisitis
Kalau tersedia spekulum, dapat ditentukan ada tidaknya servisitis. Karena teknik lapangan sulit, untuk menetapkan adanya servisitas yan menular seksual. Dapat ditetapkan secara tidak langsung denan penilaian resiko (risk assesment).
Penderita dengan penilaian resiko positif :
  • Pasanan seks positif
  • Dua diantara yan berikut ini : umur < 21 tahun; lajang; pasangan seks lebih > 1; pasanan seks baru dalam 3 bulan terakhir.
Apabila penilaian resiko negatif berarti penderita tidak menderita servisitas, berarti keputihan disebabkan adanya vaginosis atau vaginitis/vulvovaginitis.
Gejala khas adalah rasa gatal /iritasi disertai keputihan tidak berbau, atau berbau asam (masam). Keputihan bisa banyak, putih keju atau seperti kepala susu/krim. Tetapi kebanyakan sedikit dan cair, atau seperti susu pecah. Pada dinidng vagina biasanya dijumpai gumpalan keju (cottage cheeses). Pada vulva/dan vagina terdapat tanda-tanda radang disertai maserasi, pseudomembran, fisura, dan lesi satelit papulopastular.

PENGOBATAN
            Keputihan adalah gejala utama yang membawa pasien datang ke poliklinik PMS. Untuk penderita dengan penilaian resiko positif, diberikan pengobatan servisitis dan vaginitis. Dari segi kesehatan masyarakat pengobatan servisitis lebih penting. Pengobatan KVV dengan penilaian resiko negatif, denan obat anti kandida topikal krem maupun tablet vaginal. Preparat azol lebih efektif daripada nistatin. Pengobatan menghasilkan penyembuhan 80-90%.
Regimen yang direkomendasikan : 
  • Mikonazol/klotrimazol 200 mg intravaginal/hari, 3 hari
  • Klotrimazol 500 mg intravaginal dosis tungal
  • Nistatin 100 000 IU intravaginal/hari, 14 hari
Untuk vulva, khususnya dapat diebrikan krem klotrimazol 1% atau mikonazol 2% selama 7-4 hari, atau salep tiokonazol 6,5 % sekali oles.
Regimen alternatif :
Beberapa uji coba menunjukkan hasil pengobatan oral dengan flukonazo, ketokonazol, atau itrakonazol sama efektifnya dengan pengobatan topikal. Tetapi dosis optimal dan lama pengobatan belum dapat dipastikan. Pengunaan secara oral memang lebih mudah, tetapi potensi toksisitasnya, khususnya ketokonazol harus dipertimbangkan.
Tindak lanjut :
Pasien diharuskan kembali untuk tindak lanjut hanya kalau gejala tidak hilang atau kambuh.
Penatalaksanaan pasangan seks
KVV tidak didapat melalui senggama, seperti halnya vaginitis karena trikomonas, pasangan seks tidak perlu mendapat pengobatan yang sama.
Kehamilan
KVV biasa terjadi selama kehamilan, hanya preparat azol topikal yang dapat dipakai untuk KVV pada wanita hamil. Kebanyakan dianjurkan untuk memberi pengobatan selama 7 hari selama kehamilan.
KVV pada penderita infeksi HIV
KVV akut sering terjadi dan lebih berat di antara wanita dengan infeksi HIV. Sampai sekarang belum ditentukan penanganan optimal untuk KVV pada penderita HIV. Sampai saat ini penatalaksanaannya sama dengan penderita KVV tanpa infeksi HIV.


























V. VAGINOSIS BAKTERIAL

            Vaginosis Bakterial adalah sindrom klinik akibat pergantian Lactobasillus Spp penghasil H2O2 yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi (contoh : Bacteroides Spp, Mobiluncus Spp), Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis. Penyebab vaginosis bakterial bukan organisme tunggal. Ada 4 kategori dari bakteri vagina yang berhubungan dengan vaginosis bakterial yaitu  Gardnerella vaginalis, Bacteroides Spp, Mobiluncus Spp, dan Mycoplasma hominis.

GAMBARAN KLINIK
Wanita dengan vaginosis bakterial dapat tanpa gejala atau mempunyai bau vagina yang khas seperti bau ikan, terutama waktu berhubungan seksual. Bau tersebut disebabkan adanya amin yang menguap bila cairan vaina menjadi basa. Cairan seminal yang basa menimbulkan terlepasnya amin dari perlekatannya pada protein dan amin yang menguap menimbulakan bau yang khas. Walaupun beberapa wanita mempunyai ejala yan khas, namun pada sebaian besar wanita dapat asimtomatik. Pada pemeriksaan terdapat sekret yan homogen, tipis, dan cair yan berbeda dengan sekret normal vagina yang lebih tebal dan menggumpal.

KOMPLIKASI
            Peningkatan konsentrasi bakteri intravaginal, bersama-sama dengan pergeseran ke flora virulen yan lebih banyak, dapat merupakan predisposisi komplikais obsterik, dan inekologik tertentu, seperti korioamnionitis, infeksi cairan amnion, infeksi pada masa infas, penyakit radan panggul, kelahiran prematur dan his prematur.

DIAGNOSIS
            Diagnosis klinik vaginosis bakterial berdasrkan pada adanya tiga dari empat tanda-tanda berikut :
  1. Cairan vagina homogen, putih atau keabu-abuan, melekat pada dinding vagina.
  2. pH vagina lebih besar dari 4,5.
  3. Sekret vagina berbau seperti bau ikan sebelum atau setelah penambahan KOH 10 % (Whift test).
  4. Adanya clue cells pada pemeriksaan mikroskop. Clue cells merupakan sel epitel vagina yang ditutupi oleh berbagai bakteri vagina sehingga memberikan gambaran granular dengan batas sel yang kabur karena melekatnya bakteri batang atau kokus yan kecil.

PENATALAKSANAAN
            Prinsip terapi adalah menghialngkan gejala dan tanda-tanda pada vagina. Karenanya, hanya wanita dengan vaginosis bakterial simtomatik yang membutuhkan pengobatan.
Regimen terapi :
            Metronidazole 500 mg 2x sehari selama 7 hari.
Merupakan obat yang paling efektif saat ini dengan kesembuhan 95 %. Pasien dinasehatkan untuk menghindari alkohol selama terapi dan 24 jam sesudahnya.
Regimen alternatif :
  • Metronidazole oral 2 gram dosis tunggal.
-          Kurang efektif bila dibandingkan regimen 7 hari; kesembuhan 84 %.
-          Mempunyai aktivitas sedang terhadap G. vaginalis, tetapi sangat aktif terhadap bakteri anaerob, efektivitasnya berhubungan dengan inhibisi anaerob.
·         Klindamisin cream 2 % intravaginal, aplikator penuh (5 gr), dipakai saat akan tidur selama 7 hari.
·         Metronidazole gel 0,75 % intravaginal, aplikator penuh (5 gr), 2 kali sehari selama 5 hari.
·         Klindamisin 300 mg 2 kali sehari selama 7 hari.
·         Augmentin oral (500 mg amoksisilin + 125 mg asam clavulanat) 3 kali sehari selama 7 hari.
·         Sefaleksin 500 mg 4 kali sehari selama 7 hari.
Dengan terapi yang adekuat vaginosis bakterial mudah disembuhkan, tetapi kekambuhan berulang sering terjadi.

VI. SIFILIS

DEFINISI
            Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik, selama perjalanan penyakit dapat menyerang seluruh organ tubuh, ada masa laten tanpa manifestasi lesi di tubuh, dan dapat ditularkan kepada bayi di dalam kandungan.

ETIOLOGI
            Treponema pallidum merupakan spesies Treponema dari famili Spirochaetaceae, ordo Spirochaetales. Treponema pallidum berbentuk spiral, gram negatif dengan panjang rata-rata 11 µm (antara 6-20 µm) dengan diameter antara 0,09 s/d 0,18 µm. Pada umumnya dijumpai 10 bususr dengan panjang gelombang sekitar 1 µm, amplitudo sekitar 0,2-0,7 µm.

PERJALANAN SIFILIS YANG TIDAK DIOBATI
            Penyakit sifilis yang tidak diobati dibagi menjadi sifilis primer, sekunder, laten dini, dan sifilis tingkat lanjut, yaitu sifilis tersier benigna, sifilis kardiovaskuler, neurosifilis, dan sifilis lanjut.
            Sifilis ditularkan melalui kontak langsung dari lesi yang infeksius. Treponema masuk melalui selaput lendir yang utuh, atau kulit yang mengalami abrasi, menuju kelenjar limfe, kemudian masuk ke dalam pembuluh darah, dan diedarkan ke seluruh tubuh. Setelah beredar beberapa jam melalui pembuluh darah, infeksi menjadi sistemik walaupun tanda-tanda klinis dan serologis belum jelas pada saat itu. Sekitar 3 minggu (10 s/d 90 hari) setelah Treponema masuk, di tempat masuknya di tubuh timbul lesi primer berupa tukak.

GAMBARAN KLINIK
            Sifilis primer, tanda klinis yang pertama muncul adalah tuakk, dapat terjadi dimana saja di daerah genitalia eksterna, 3 minggu setelah kontak. Jumlah tukak biasanya hanya satu, meskipun dapat juga multipel. Tukak jarang terjadi pada genitalia eksterna wanita, karena lesi sering pada vagina atau serviks. Sifilis sekunder, manifestasi klinis dapat berupa berbagai ruam pada kulit, selaput lendir, dan organ tubuh. Dapat disertai demam, malaise. Pada kulit kepala dijumpai alopesia yang disebut moth-eaten alopecia yang dimulai pada daerah oksipital. Sifilis laten, merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis, akan tetapi pemeriksaan serologis reaktif. Dalam perjalanan penyakit sifilis selalu melalui tingkat laten, selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Akan tetapi bukan berarti penyakit akan berhenti pada tingkat ini. Sifilis lanjut, kecuali umma, lesi berupa endarteritis obliterans pada bagian ujung arteriol dan pembuluh darah kecil yang menyebabkan peradangan dan nekrosis. Umumnya yan palin sering terjadi pada sifilis lanjut, ialah latensi, simtomatik neurosifilis, sifilis benigna lanjut dan sifilis kardiovaskuler.Pada penyakit neurosifilis dapat asimtomatik dan sangat jaran terjadi dalam bentuk murni. Pada semua jenis neurosifilis terjadi perubahan berupa endarteritis obliterans pada ujung pembuluh darah disertai degenerasi parenkimatosayang mungkin sudah atau belum menunjukkan gejala pada saat pemeriksaan. Sifilis kardiovaskuler, biasanya disebabkan karena nekrosis aorta yan berlanjut ke arah katup. Tanda-tandanya adalah insufisiensi aorta atau aneurisma, berbentuk kantong pada aorta torakal. Sifilis benigna lanjut, disebut benigna karena jarang menyebabkan kematian kecuali bila menyerang jaringan otak. Lesi yang penting pada sifilis ini adalah gumma. Gumma mungkin terjadi sebagia akibat reaksi hipersensitivitas infeksi Treponema.

DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis sifilis, diagnosis klinis harus dikonfirmasikan dengan pemeriksaan laboratorium berupa :
1.      Pemeriksaan lapangan gelap dengan bahan pemeriksaan dari bagian dalam lesi, untuk melihat adanya T.pallidum.
a.   Pemeriksaan lapangan gelap (dark field).
Ruam sifilis primer dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis. Serum diperoleh dari bagian dasar/dalam lesi dengan cara menekan lesi dan serum akan keluar. Diperiksa dengan mikroskop lapangan gelap menggunakan minyak imersi.  T.pallidum berbentuk ramping, erakan lambat, dan angulasi.
  1. Mikroskop fluoresen
Bahan apusan dari lesi dioleskan pada gelas objek, difiksasi dengan aseton, sediaan diberi antibodi spesifik yang dilabel fluorescein, kemudian diperiksa dengan mikroskop fluoresensi.
2.      Penentuan antibodi di dalam serum
a.   Tes yang menentukan antibodi non spesifik.
      - Tes Wasserman
      - Tes Kahn
      - Tes VDRL (Venereal Diseases Research Laboratory)
      - Tes RPR (Rapid Plasma Reagin)
      - Tes Automated reagin
b.   Antibodi terhadap kelompok antigen yaitu tes RPCF (Reiter Protein Complement Fixation)
c.   Yang menenutkan antibodi spesifik yaitu :
      - Tes TPI (Treponema Pallidum Immobilization)
      - Tes FTA-ABS (Fluorescent Treponema Absorbed)
      - Tes TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination Asaay)
      - Tes Elisa (Enzyme linked immuno sorbent assay).

PENATALAKSANAAN
            Obat pilihan utama untuk sífilis hinga saat ini ahíla penisilin, tetapi apabila terdapat alergi terhadap penisilin diberikan antibiotika jenis lain. Diperlukan konsentrasi yang cukup dalam serum untuk membunuh Treponema sekitar 0,01 µ/ml. Dengan demikian konsentrasi 0,03 µ/ml dalam serum dapat diperoleh dengan memberikan penisilin atau penisilin yan bersifat long acting. Pemberian penisilin oral tidak dianjurkan karena konsentrasi dalam serum rendah akibat absorbsi yan kurang baik. Pengobatan tidak hanya untuk membunuh Treponema di dalam darah, akan tetapi juga di dalam jaringan terutama limfe dan susunan syaraf pusat.
Jenis Penisilin yang digunakan.
Tujuan utama pemberian penisilin secara suntikan ialah agar dicapai konsentrasi 0,03 µ/ml di dalam serum selama 10-15 hari pada sifilis dini. Masa pemebrian suntikan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 15-20 hari pada sifilis lanjut. Pilihan penisilin harus memenuhi syarat : sedikit efek samping, tersedia, relatif murah, dapat disimpan pada berbagai suhu. Diperlukan jenis yan mempunyai absorbsi rendah.
1.      Penisilin G prokain dalam akua, bila diberikan dengan dosis 600.000 µ untuk mencapai konsentrasi yang dibutuhkan dalam serum.
2.      PAM (Penisilin G prokain + 2% aluminium monostearat) dan Benzathine penisilin G, dapat diberikan sekali suntik untuk jangka waktu tertentu yang dihitung jumlah unitnya. Pemberian penisilin G banzatin 300.000 µ sekali suntik akan menghasilkan konsentrasi 0,03 µ/ml selama 7 hari, sehingga pemberian 2,4 MU penisilin akan bekerja selama 3-4 minggu.
Pengobatan antibiotika selain penisilin
Selain penisilin dapat digunakan antibiotika lain, kecuali aminoglikosida (streptomisin dan gentamisin), karena tidak efektif untuk T.pallidum. Sefalosporin, termasuk cefaloridine, tetrasiklin, eritromisin, spiramisin dan kloramfenikol dapat digunakan. Dari segi rendahnya efek samping, maka tetrasiklin hidroklorida atau eritromisin (bukan estolat) yang lebih disukai.

Rekomendasi WHO / CDC (Centre for Disease Control)
1.      Pengobatan sifilis dini (primer, sekunder, dan laten dini tidak lebih dari 2 tahun).
a.                                 Penisilin G benzatin 2,4 juta unit satu kali suntikan intra muskular (IM), atau
b.                                Penisilin G prokain dalam akua 600.000 µ IM selam 10 hari.
Pemberian 10 hari pada sifilis primer seronegatif, sedangkan pada seropositif dan sifilis sekunder diberikan selama 14 hari.
Pengobatan terhadap sifilis dini dan yang alergi terhadap penisilin :
a.       Tetrasiklin hidroklorida, 4 x 500 mg oral selama 15 hari
b.      Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 15 hari (bukan estolat). 
2.   Pengobtan sifilis lanjut
      Sifilis dengan waktu lebih dari dua tahun, sifilis laten yang tidak diketahui lama infeksi, atau lebih dari dua tahun, kardiovaskuler, lanjut benigna, kecuali neurosifilis.
  1. Penisilin G benzatin 2,4 juta unit, IM setiap minggu, selama 3 x berturut-turut, atau
  2. Dengan penisilin G prokain 600.000 IM setiap hari selama 14 hari.
Pengobatan alternatif untuk sifilis lanjut :
Bila alergi terhadap penisilin, sebagai obat alternatif diberikan tetrasiklin dan eritromisin. Doksisiklin 200 ml sehari secara oral diberi selama 15 hari. Sefaloridin 1 gr, 2 x sehari selama 21 hari dapat dipertimbangkan pada sifilis dengan komplikasi.




Rekomendasi pemberian penisilin pada neurosifilis
            CDC (1985) menganjurkan pemberian 6-9 MU benzyl penisilin selama 3-4 minggu. Selanjutnya dianjurkan pemberian benzyl penisilin 2-4 MU secara IV setiap 4 jam selama 10 hari yang diikuti pemberian penisilin long acting sebagai berikut :
1.      Penisilin G benzatin 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu, atau
2.      Penisilin G prokain 2,4 juta unit IM + probenesid 4 x 500 mg/hari selama 10 hari yang diikuti pemberian penisilin G benzatin 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu.

VII. ULKUS MOLE
DEFINISI
            Ulkus mole atau sering disebut chancroid, ialah penyakit infeksi genitalia akut, setempat, dapat inokulasi sendiri (auto-inoculable), disebabkan oleh Haemophilus ducreyi, dengan gejala klinis khas berupa ulkus pada tempat masuk dan seringkali disertai supurasi kelenjar etah bening regional.

ETIOLOGI
Penyebab ulkus mole ialah Haemophilus ducreyi, merupaka bakteri gram negatif, anaerobik fakultatif, perlu hemin (faktor X) untuk pertumbuhannya, berbentuk batang kecil atau pendek dengan ujung bulat, tidak bergerak, dan tidak membentuk spora. Sifat lainnya yng khas ialah dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit, memberikan hasil positif pada tes oksidase, negatif katalase, dan menghasilkan fosfatase alkali.

GAMBARAN KLINIS
            Masa inkubasi pada pria berkisar antara 2-35 hari dengan waktu rata-rata 7 hari. Sedangkan pada wanita sukar ditrntukan, oleh karena sering ditemukan kasus asimtomatik. Tempat masuk kuman merupakan daerah yang sering atau mudah mengalami abrasi, erosi, atau ekskoriasi, yang disebabkan oleh trauma, infeksi lain, atau iritasi yang berhubungan dengan kurangnya higiene perorangan. Pada pria umumnya di preputium, meatus uretra eksternum, sedangkan pada wanita palin sering didapatkan di fourchette, sekitar meatus uretra, dan bagian dalam labia minora. Keluhan pada penderita pria biasanya berhubungan dengan ulkus atau adenopati inguinal yang menyertainya sedangkan keluhan pada wanita sering kali tidak berhubungan dengan ulkus, misalnya disuria, nyeri waktu defekasi, dispareunia, atau duh vagina.
Beberapa variasi klinis ulkus mole diantaranya ialah :
1.      Giant chancroid: beberapa ulkus dapat bergabung membentuk lesi tunggal yang dapat meluas ke tepinya.
2.      Ulkus mole serpiginosum : lesi yang menjadi konfluens, membesar akibat perluasan dan inokulasi sendiri, dan bersifat destruktif.
3.      Ulkus mole gangrenosum : satu varian yang disebabkan oleh super infeksi dengan bakteri fusospirokhetosis, sehingga menimbulkan ulkus vagedenik. Dapat menyebabkan destruksi jaringan yang cepat dan dalam.
4.      Transient chancroid : ulkus kecil yang sembuh spontan dalam waktu beberapa hari. Dapat diikuti oleh limfadenitis regional akut 2-3 minggu kemudian.
5.      Ulkus mole folikularis (follicular chancroid) : timbul pada folikel rambut, terdiri atas ulkus kecil multiple. Lesi ini bisa terjadi di vulva atau pada daerah genitalia yang berambut. Lesi ini sangat superfisial.
6.      Ulkus mole papular (ulcus molle elevatum) : terdiri atas papul yang berulserasi dan granulomatosa, dan dapat menyerupai donovanosis atau kondiloma lata sifilis stadium II.

KOMPLIKASI
            Adenitis inguinal (bubo inflamatorik). Timbul beberapa hari sampai 3 minggu setelah lesi primer, biasanya unilateral. Kelenjar membesar, nyeri, kemudian bergabung. Bila tidak diobati, abses akan memecah ke kulit, sehingga membentuk sinus tunggal yang kemudian berkembang menjadi ulkus chancroid.
            Fimosis atau parafimosis. Dapat terjadi akibat sikatrisasi pada lesi yang mengenai preputium, perlu sirkumsisi untuk penanganannya.
            Fistel uretra. Sebagai akibat ulkus pada glans penis yang bersifat destruktif. Bila mengenai uretra akan menimbulkan nyeri hebat pada waktu miksi. Dapat diikuti oleh striktura uretra.
            Fistel rektovagina. Merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada wanita.

DIAGNOSIS
Diagnosis ulkus mole ditegakkan berdasarkan riwayat pasien, keluhan dan gejala klinis, serta pemeriksaan laboratorium untuk menemukan agen penyebabnya. Tes serologi untuk ulkus mole. Tes fiksasi komplemen, presipitin, dan aglutinin menunjukkan hasil positif pada pasien dengan ulkus genital karena infeksi H. Ducreyi. Tes ELISA (Enzyme linked immunosorbent assay) memakai whole lysed H. ducreyi sebagai antigen memiliki spesifitas dan sensivisitas tinggi.
Cara-cara lain untuk menyokong diagnosis ulkus mole, misalnya reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap antigen H. Ducreyi pada tes kulit Ito-Reenstierna, atau tes inokulasi sendiri untuk menghasilkan ulkus baru, tidak lagi dipergunakan.

PENATALAKSANAAN
1.      Pengobatan sistemik
Obat pilihan tergantung atas beberapa faktor, misalnya tersedianya fasilitas kultur H. Ducreyi, hasil tes resistensi antimikrobial terhadap isolat H. Ducreyi setempat, dan tersedianya atau harga relatif obat antimikroba. Regimen yang optimal untuk pengobatan ulkus mole harus dapat menyembuhkan semua pasien dengan ulkus genital dan bubo disertai eradikasi cepat H. Ducreyi. Pada umumnya, obat dapat menyembuhkan ulkus mole pada penderita normal bila kadar antibakteri dalam serum melebihi konsentrasi hambat minimal H. Ducreyi selama waktu minimal 48 jam.
Pada evaluasi ulkus mole di banyak daerah di seluruh dunia, menunjukkan beberapa regimen yang masih efektif, yaitu :
1.                                Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi intramuskular.
2.                                Eritromisin 4 x 500 mg per os, selama 7 hari.
3.                                Amoksisilin 500 mg + asam klavulanat 125 m 3 kali sehari selama 7 hari.
4.      Siprofloksasin 2 x 500 m selama 3 hari. Obat ini dikontraindikasikan untuk wanita hamil, menyusui, anak-anak yang berusia kuran dari 17 tahun.
Pengobatan denan trimethoprim 80 mg + Sulfamethoxazole 400 mg ternyata kini kurang efektif di beberapa negara di Asia dan Afrika. Sehingga obat ini dipakai hanya bila didapatkan hasil resistensi in vitro yang rendah dan harus terus dimonitor secara berkala.
2. Pengobatan lokal
            Cara pengobatan lain yang dilakukan serentak, misalnya kompres, irigasi, atau rendam dengan larutan salin akan membantu menhilangkan debris nekrotik dan mempercepat penyembuhan ulkus. Antiseptik lokal merupakan kontraindikasi, karena dapat menganggu pemeriksaan untuk diagnosis dini sifilis dengan mikroskop lapangan gelap.
            Aspirasi jarum dianjurkan untuk bubo yan berukuran 5 cm atau lebih, dengan fluktuasi di bagian tengahnya, untukmencegah pecahnya bubo.






























VIII. HEPATITIS B

DEFINISI
Virus hepatitis yang saat ini ditemukan dan pathogen pada manusia adalah Virus hepatitis A (VHA), virus hepatitis B (VHB), virus hepatitis C (VHC), virus hepatitis D (VHD), virus hepatitis E (VHE).
VHB, yang kini dikenal sebagai penyebab hepatitis B, dulu dikenal sebagai penyebab serum hepatitis, paling sering ditularkan secara parenteral dan dan dikenal sebagai penyebab penting tejadinya infeksi akut atau menahun pada hepar. Masa inkubasi hepatitis B bervariasi antara 1 sampai 6 bulan. Hepatitis B sering tidak menunjukan gejala ikterik dan asimtomatik, walaupun pada keadaan yang sangat parah dapat menimbulkan penyakit kuning, serta kegagalan hepar yang akut. Infeksi VHB ini bertahan lama pada 10 % orang dewasa imunokompoten yang terinfeksi dan pada 90% bayi yang terinfeksi saat lahir (tergantung dari kelompok etnik ibunya).
Meningkatnya insidens infeksi VHB pada banyak negara pada tahun 70-an diduga erat kaitannya dengan peningkatan promiskuitas dan peningkatan pola perilaku hubungan seksual yaitu homoseksual, hubungan oro-genital dan ano-genital. Pada penelitian terhadap sekelompok pekerja seks komersial, ditemukan kelompok ini merupakan resiko tinggi dalam penularan VHB dan potensial sebagai sumber penularan, selain penularan melalui alat-alat medik.

PENGOBATAN
Pada penderita yang belum memiliki kekebalan terhadap VHB ini dan tidak dalam keadaan infeksi (HBsAg negatif, anti-HBs negatif), pemberian vaksinasi (imunisasi aktif) dapat melindungi yang bersangkutan dari kemungkinan tertular penyakit ini. Interferon alfa dapat memperpanjang usia para pengidap VHB kronis, karena dapat mencegah replikasi virus secara parsial. Untuk imunisasi aktif vaksinasi VHB, sebelum seseorang divaksinasi perlu dilakukan penyaringan apakah telah tertular virus hepatitis B atau belum. Pemeriksaan yang dianjurkan adalah anti HBs, HBsAg dan anti Hbc. Bayi yang baru lahir dari ibu dengan HBsAg (+) karena pembawaan yang persisten atau sebagai akibat infeksi ibu yang VHB (+) tanpa antibodi terhadap antigen E (anti HBe), maka waktu yang paling tepat untuk pemberian imunoglobulin (imunisasi pasif) adalah dalam waktu 12 jam setelah melahirkan pada sisi kolateral bersama vaksinasi.
Strategi penanganan hepatitis-B saat ini, adalah dengan menganjurkan imunisasi pada semua bayi yang baru lahir, termasuk neonatus dari ibu yang menderita VHB.  Pada pekerja kesehatan yang terkena jarum suntik penderita hepatitis-B, dapat diberikan vaksinasi secara tunggal atau dalam kombinasi dengan imunoglobulin hepatitis-B. respon imunitas dengan vaksin hepatitis-B saat ini, sangat rendah pada penderita yang imunokompromis atau yang berusia lanjut (60%). Hingga saat ini pencegahan dengan vaksinasi aktif adalah cara yang efektif agar tidak terjangkit penyakit ini.
Terapi dengan ά-interferon-2b menghasilkan respon terhadap virus dan perubahan histologik pada penderita hepatitis-B kronik atau dengan VHB replikasi aktif. Studi tentang imunoterapi dengan antibodi hepatitis-B pebgobatan pre dan post dengan interferon dan berbagai penelitian untuk mengurangi resiko kekambuhan VHB masih sedang dalam penelitian.



















IX. PEDIKULOSIS PUBIS

DEFINISI
            Pedikulosis pubis merupakan infeksi kutu Phthirus pubis pada rambut pubis, tetapi kadang juga dapat ditemukan di alis, bulu mata dan rambut aksila. Ditularkan melalui kontak fisik yang erat, biasanya pada saat berhubungan seks atau dari orang tua kepada anaknya. Juga dapat ditularkan melalui benda-benda yang dipakai bersama seperti pakaian, handuk dan sprei. Jarang dijumpai pada ras di daerah tropis dengan rambut pubis yang tidak lebat.

GAMBARAN KLINIK
Biasanya lesi primer karena gigitan kutu tidak begitu jelas, tapi menimbulkan gatal yang hebat terutama pada malam hari. Pruritus biasanya timbul 30 hari setelah paparan awal. Akibat garukan terjadi eritem, iritasi, dan infeksi sekunder. Kadang-kadang pada tempat gigitan terdapat maculae cerulae, berupa bercak berdiameter kurang dari 1 cm, berwarna kebiruan dan tidak gatal serta menghilang pada pemeriksaan diaskopi.

DIAGNOSIS
            Diagnosis ditegakan berdasarkan riwayat keluhan penderita dan pemeriksaan seksama di daerah predileksi untuk mencari kutu dewasa. Jumlah kutu dewasa biasanya hanya sedikit. Setelah menghisap darah, parasit ini menjadi lebih mudah terlihat karena berwarna coklat kemerahan mirip krusta. Pada papul bekas garukan, bila krusta diangkat dan diletakan di atas gelas obyek maka ia dapat berjalan. Bila dijumpai kutu dewasa, diagnosis dapat ditefakan dengan menemukan telur kutu yang menempel pada batang rambut melalui pemeriksaan mikroskop, biasanya dekat permukaan kulit.

PENGOBATAN
A.    Pengelolaan umum
  • Harus dicari penyakit menular seksual lain yang mungkin menyertai, karena pedikulosis pubis sering diderita bersamaan dengan PMS lain seperti GO, trikomoniasis, skabies, UNG, kutil kelamin, kandidosis, dan sifilis.
  • Untuk memperkecil kemungkinan reinfestasi, telur pada batang rambut harus dibersihkan memakai sisir yang rapat.
  • Pasangan seks dalam kurun waktu 1 bulan terakhir harus diterapi secara simultan. 
B.     Obat spesifik
  • Shampo gemeksan (Lindane) 1 % yang dioleskan selama 4 menit kemudian dicuci. Tidak boleh diberikan kepada anak berusia kurang dari 2 tahun, ibu hamil serta menyusui serta erosi yang masif.
  • Krim permetrin 1 % yang dioleskan selama 10 menit kemudian dicuci. Obat ini merupakan terapi pilihan untuk pedikulosis, diserap kurang dari 2 % dan cepat diubah menjadi metabolik inaktif. Aktivitas farmakologik sama seperti Lindane tetapi tidak menimbulkan neurotoksisitas.
  • Pirethrin dengan Piperonil butiksida yang dioleskan selama 10 menit kemudian dicuci.
C.    Bila mengenai bulu mata dapat dioleskan :
  • Salep mata oklusif pada tepi kelopak mata, 2 kali sehari selama 10 hari.
  • Salep mata fisostigmin 0,25 %, 4 kali sehari selama 3 hari.
D.    Tindak lanjut
  • Setelah satu minggu dilakukan evaluasi, bila masih ditemukan kutu atau telurnya pada pangkal rambut, maka harus diulang.
  • Untuk rasa gatal yang menetap karena sensitasi, dapat diberikan anti inflamasi ringan seperti krim Hidrokortison 1%, 2 kali sehari.











X. SKABIES

DEFINISI
            Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitasi Sarcoptes scabies Var. Hominis (Derbes, 1979). Spesies Sarcoptes merupakan sejumlah varietas yang masing-masing bersifat host-spesific. Penyebab skabies pada manusia adalah varietas homonis, sedangkan varietas pada mamalia lain dapat menginfestasi manusia, tetapi tidak dapat hidup lama.

GAMBARAN KLINIK
Pruritis pada malam hari merupakan gejala skabies yang utama, karena aktivitas tungau meningkat pada suhu kulit yang lembab dan sangat hangat. Lesi khas skabies adalah papul yang gatal sepanjang terowongan yang berisi tungau. Penderita sering datang dengan lesi yang sudah mengalami ekskoriasis, eksematisasi dan infeksi sekunder akibat garukan yang sering kali mengaburkan gambaran klinik.

DIAGNOSIS
Diagnosis skabies perlu dipertimbangkan apabila ditemukan riwayat gatal, terutama pada malam hari, mungkin juga ditemukan pada anggota keluarga yang lain, dan terdapatnya lesi polimorf terutama pada tempat predileksi. Diagnosis pasti ditegakan dengan ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskop, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
1.      Kerokan kulit
2.      Mengambil tungau dengan jarum
3.      Epidermal shave biopsi
4.      Kuretasi terowongan (kuret dermal)
5.      Tes tinta Burrow
6.      Tetrasiklin topikal
7.      Apusan kulit
8.      Biopsi plong

PENGOBATAN
Pada prinsipnya pengobatan dimulai dengan menegakan diagnosis skabies, kalau dapat dengan menemukan tungaunya. Setelah diberikan penjelasan pada penderita mengenai penyakitnya, ditentukan obat yang akan digunakan dengan mempertimbangkan efisiensi dan toksisitas. Pada umumnya belum banyak laporan mengenai penelitian efisiensi obat skabisid. Melihat masa inkubasi yang lama semua orang yang berkontak dengan penderita perlu diobati, meskipun tidak ada gejala baik anggota keluarga maupun mitra seks. Hal ini perlu untuk menghindari reinfeksi.
Beberapa macam obat dapat dipakai pada pengobatan skabies
1.      Gama benzen heksaklorid (Lindane)
Merupakan obat yang paling sering digunakan dan merupakan obat pilihan karena dapat membunuh tungau atau telurnya.
2.      Krotamiton
Krotamiton 10 % dalam krim atau losio, merupakan skabisid yang efektif. Dapat menimbulkan iritasi apabila digunakan dalam jangka waktu lama atau pada kulit menunjukkan iritasi akut.
3.      Sulfur
Sulfur telah digunakan sejak lama, sebagai sulfur presipitatum 5-10% dalam vaselin. Cara pemakaian dioleskan pada badan dan ekstremitas selama 3 hari berturut-turut, kemudian dicuci (mandi) 24 jam setelah aplikasi terakhir. Obat ini dapat dipakai pada bayi, penderita hamil dan menyusui. Obat ini membunuh larva, tungau, namun kerugian pemakaiannya adalah baunya yang tidak enak, lekat, mewarnai pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi.
4.      Bensil bensoat
Bensil bensoat dipakai sebagai bentuk emulsi atau losio dengan konsentrasi 20-35%. Walaupun obat ini merupakan skabisid yang ampuh, tetapi tidak sering digunakan lagi. Obat ini tidak mewarnai pakaian tetapi dapat menimbulkan iritasi.
5.      Tiabendasol
Tiabendasol 5-10% dalam bentuk krim dan lasio digunakan di Mexico dan Amerika Selatan dengan hasil baik.
6.      Permetrin
Permethrin 5 % dalam bentuk krim adalah obat topikal anti skabies yang baru. Cara pemakaian : dioleskan di permukaan tubuh mulai dari leher ke bawah untuk orang dewasa dan pada bayi di seluruh tubuh; setelah 8 – 12 jam kemudian dibersihkan. Apabila belum sembuh dapat diulangi seminggu kemudian.

XI. MOLUSKUM KONTAGIOSUM

DEFINISI
            Moluskum kontagiosum (MK) adalah neoplasma jinak pada jaringan kulit dan mukosa yang disebabkan oleh virus moluskum kontagiosum (VMK). Terutama menyerang anak-anak, orang dewasa yang kehidupan seksualnya sangat aktif, serta orang yang mengalami gangguan imunitas. MK disebabkan oleh virus moluskum kontagiosum yang tergolong dalam kelompok virus pox. Terdapat 2 subtipe : 1. VMK tipe I dengan genom 185 kb, lebih sering ditemukan pada isolat (76-96,6%). 2. VMK tipe II dengan genom 195 kb.

GAMBARAN KLINIS
            Masa inkubasi berkisar antara 1 minggu sampai 6 bulan dengan waktu rata-rata 2-3 bulan. Lesi MK berupa papul sferikal, permukaan halus, konsistensi kenyal, dengan umbilikasi pada bagian sentral. Diameter rata-rata berukuran 3-5 mm, namun dapat sampai 1,5 cm (sering pada penderita imunokompromis). Lesi berwarna putih, kuning muda, atau seperti warna daging. Jumlah lesi biasanya lebih dari 30 buah, tetapi dapat mencapai ratusan buah yang dapat bersatu membentuk plakat. Kulit di sekitar lesi dapat mengalami eksimatisasi (dermatitis moluskum).
            Dermatitis lesi MK, pada anak-anak biasanya terdapat di badan, muka, ekstremitas, perianal, skrontum, inguinal. Pada orang dewasa, biasanya MK ditularkan melalui hubungan seksual, sehingga banyak terdapat di daerah genitalia dan abdomen bagian bawah. Lesi dapat juga timbul intraoral, perioral, intraokular, periokular, dan sangat jarang timbul pada telapak tangan atau telapak kaki.

DIAGNOSIS
            Secara klinis tidak terlalu sukar untuk menegaskan diagnosis MK, karena bentuk lesi cukup khas, berupa papul padat dengan umbilikasi sentral, serta distribusi lesi tertentu pada anak dan dewasa. Penyakit ini dapat didiagnosis banding dengan veruka vulgaris, veruka plana, kondilomata akuminata, keratoakantoma, dermatitis atopik, penyakit darier.



PENGOBATAN
Secara umum dengan memperbaiki higiene perorangan atau keluarga/kelompok. Walaupun MK mungkin dapat sembuh sendiri, namun perlu dilakukan tindakan tertentu, supaya tidak terjadi inokulasi sendiri seperti penderita jangan mandi di kolam renang umum, tidak melakukan olahraga yang berkontak badan, tidak memakai pakaian atau handuk bersama-sama orang lain.    
            Pengobatan secara khusus, pada dasarnya bertujuan menghilangkan lesi MK dengan tindakan bedah atau tindakan berupa trauma epidermal sehingga kulit dapat terkelupas. Cara bedah yang dapat dilakukan di antaranya berupa bedah dengan kuret kulit, bedah listrik memakai elektrodesikator, bedah laser, bedah beku dengan nitrogen cair. Pengobatan dengan bahan kimia dapat dilakukan dengan solusio kantaridin 0,9%, asam retinoat 0,1%, tingtura yodium 1%, tingtura podofilin 25%, solusio perak nitrat 5-10%, solusio fenol jenuh, solusio asam trikloroasetat 25-50%, dan fluourasil. 




















XII. HERPES GENETALIS

DEFINISI
            Herpes genetalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasr ertema dan bersifat rekurens. Herpes genetalis disebakan oleh Herpes simplex virus (HSV) atau Herpes virus hominis (HVH). Penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan dapat dibedakan tipenya, yaitu : HSV tipe 1 (HSV-1) dan HSV tipe 2 (HSV-2). Sebagian besar penyebabnya adalah HSV-2, tetapi walaupun demikian dapat juga disebabkan oleh HSV-1 (± 16,1%) akibat adanya hubungan kelamin secara orogenital atau penularan melalui tangan.

GAMBARAN KLINIK
            Masa inkubasi umumnya berkisar antara 3-7 hari, tetapi dapat lebih lama. Gejala yang timbul dapat bersifat berat, tetapi bisa juga asimtomatik terutama bila lesi ditemukan pada daerah serviks. Pada penelitian retrospekrif 50-70% infeksi HSV-2 adalah asimtomatis. Biasanya didahului rasa terbakar dan gatal pada daerah lesi terjadi beberapa jam sebelum timbulnya lesi. Setelah lesi timbul dapat disertai dengan gejala konstitusi seperti malaise, demam, dan nyeri otot. Lesi pada kulit berbentuk vesikel yang berkelompok dengan dasar eritem. Vesikel ini mudah pecah dan menimbulkan erosi multipel. Tanpa infeksi sekunder, penyembuhan terjadi dalam waktu lima sampai tujuh hari dan tidak terjadi jaringan paru; tetapi bila ada, penyembuhan memerlukan waktu lebihlam dan meninggalkan jaringan parut.
            Tempat predileksi pada pria biasanya di preputium, glans penis, batang penis, dapat juga di uretra dan daerah anal (pada homoseks), sedangkan daerah skrotum jarang terkena. Lesi pada wanita dapat ditemukan di daerah labia major/minor, klitoris, itroitus vagina, serviks; sedangkan pada daerah perianal, bokong dan mons pubis jarang ditemukan. Infeksi pada wanita sering dihubungkan dengan servisitis, karena itu perlu pemeriksaan sitologi secara teratur.

DIAGNOSIS
            Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah pemeriksaan tes Tzang yang diwarnai dengan pengecatan Giemsa atau Wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan ini umumnya rendah.
            Cara yang paling baik adalah dengan melakukan kultur jaringan, karena yang paling sensitif dan spesifik. Bila titer virus dalam spesimen cukup tinggi, maka hasil positif dapat dilihat dalam jangka waktu 24-48 jam. Pertumbuhan virus dalam sel ditunjukkan dengan terjadinya granulasi sitoplasmik, degenerasi balon dan sel raksasa berinti banyak. Namun cara ini memiliki kekurangan dalam lamanya waktu pemeriksaan dan biaya yang mahal.
            Masih ada sejumlah tes untuk mendeteksi antigen HSV dengan harapan diagnosisnya dapat lebih cepat, yaitu pemeriksaan langsung dengan mikroskop elektron dan tes imunologik memakai antibodi poliklonal atau monoklonal, misalnya dengan teknik pemeriksaan dengan imunofluoresensi, imunoperoksidase dan ELISA.

PENGOBATAN
            Setelah diagnosis ditegakkan, baik secara klinis, dengan maupun tanpa pemeriksaan penunjuang, maka langkah selanjutnya adalah memberikan pengobatan.
            Pengobatannya dapat dibagikan menjadi tiga kategori, yaitu profilaksis, pengobatan non-spesifik dan pengobatan spesifik.
Tindakan profilaksis
a.       Penderita diberi penerangan tentang sifat penyakitnya yang dapat menular terutama bila sedang terkena serangan, karena itu sebaiknya melaksanakan abstinensia.
b.      Proteksi individual. Digunakan dua macam alat perintang, yaitu busa spermisidal dan kondom. Kombinasi tersebut, bila diikuti dengan pencucian alat kelamin memakai air dan sabun pasca koitus, dapat mencegah transmisi herpes genetalis hampir 100% (RAAB dan LOORINCZ, 1981). Busa spermisidal secara invitro ternyata mempunyai sifat virisidal, dan kondom dapat mengurangi penetrasi virus.
c.       Faktor-faktor pencetus sedapat mungkin dihindari.
d.      Konsultasi psikiatrik dapat membantu karena faktor psikis mempunyai peranan untuk timbulnya serangan.

Pengobatan non-spesifik
a.       Rasa nyeri dan gejala lain bervariasi, sehingga pemberian analgetika, antipiretik dan antipuritus disesuaikan dengan kebutuhan individual.
b.      Zat-zat pengering antiseptik, seperti yodium povidon secara topikal mengeringkan lesi, mencegah infeksi sekunder dan mempercepat waktu penyembuhan.
c.       Antibiotika atau kotrimoksasol dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.
Pengobatan spesifik
            Berbagai macam obat antivirus telah pernah dipakai untuk mengatasi penyakit herpes genetalis, misalnya idoksuridan topikal, sitarabin (Ara-C) dan vidarabin (Ara-A) secara ntravena, inosipleks (isoprinosin), dan interferon. Obat antivirus yang kini telah banyak dipakai adalah asiklovir, dan saat ini terdapat 2 macam lagi obat antivirus baru yaitu valasiklovir dan famsiklovir.
1.      Asiklovir
Asiklovir merupakan obat anti virus spesifik terhadap virus herpes, dapat diberikan pada penderita dengan infeksi  mukokutan disertai defisiensi imunitas. Obat ini hanya bekerja terhadap sel-sel yang terkena infeksi. Tidak mempunyai efek teratogenik. Toleransi obat baik, tidak ada toksisitas akut dan tidak menimbulkan penekanan sumsum tulang, hati dan ginjal. Tetapi walaupun demikian pernah dilaporkan efek samping seperti kolik ginjal, kenaikan kadar ureum/kreatinin dalam serum, reaksi setempat pada suntikan, nausea dan vomitus.
Asiklovir dapat diberikan secara intravena, oral dan topikal. Dosis setiap kali pemberian 5 mg/kg BB, dengan interval 8 jam. Pengobatan asiklovir secara intravena pada herpes genital episode pertam, memerlukan waktu selama 5-10 hari. Sebaiknya infeksi primer diberi asklovir secara intravena dan pada rekurens diberikan secara oral. Pemberian oral juga tidak menjamin tidak timbul rekurensi. Kinghorn dkk (1986) telah membuktikan bahwa asklovir 200 mg lima kali sehari peroral ditambah kotrimoksazol (160 mg trimetoprim dan 800 mg sulfametoksazol) dua kali sehari selama 7 hari memependek waktu penyembuhan lesi secara bermakna dibandingkan dengan  pengobatan asiklovir saja.
Asiklovir topikal diberikan dalam bentuk krim 5%. Obat ini bekerja langsung pada sel yang terinfeksi. Efek toksiknya sangat minimal, absorpsinya minimal dan tidak mengadakan interaksi dengan obat lain yang digunakan secara bersamaan. Selain itu juga mengurangi rasa nyeri dan gatal. Karena hasilnya kurang efektif dibandingkan dengan pemberian secara oral, maka pemakaiannya hanya untuk mengurangi keparahan dan lamanya episode rekurens.
2.      Valasiklovir
Obat ini merupakan derivat ester L-valildari asiklovir. Bahan aktif antivirusnya dalah asiklovir, sehingga kemanjuran dan spesifisitasnya berhubungan dengan cara kerja asiklovir. Setelah diabsorpsi valasiklovir dengan cepat dan hampir seluruhnya, diubah menjadi asiklovir dan L-valin. Bioavailabilitasnya 3-5 kali lebih tinggi daripada yang dapat dicapai asiklovir oral dosis tinggi. Kadar dalam plasma setelah valasiklovir oral 1000 mg mendekati kadar yang dapat dicapai oleh asiklovir oral 5 x 200 mg/hari, dan plasebo dalam waktu 24 jam setelah timbulnya keluhandan gejala klinis pertamaepisode herpes genitalis rekurens menunjukkan bahwa terapi vasiklovir secara bermakna mengurangi rasa nyeri dan mempercepat pertumbuhan lesi, serta dengan cepat memperpendek masa virus shedding.  Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah nyeri kepala dan mual.
3.      Famsiklovir
Obat antivirus baru saat ini ialah famsiklovir (famciclovir), yang merupakan derivat diasetil-6-deoksi pensiklovir. Pensiklovir merupakan golongan antivirus dengan komponene guanin, yang dapat diberikan secara topikal dan intravena. Cara kerja famsiklovir sama seperti asiklovir, yaitu menghambat sintesis DNA. Pada penderita herpes genitalis episode pertama, pemberian famsiklovir 3 kali 500 mg per hari selama 5 hari, ternyata mempersingkat viral shedding dan waktu penyembuhan, dibandingkan plasebo. Pengobatan dengan famsiklovir sama efektivitasnya dengan asiklovir pada kasus herpes genitalis, namun frekuensi pemberiannya lebih jarang.

Pengobatan pada wanita hamil dengan herpes genitalis
            Wanita hamil yang menderita herpes genitalis primer dalam 6 minggu terkahir masa kehamilannya dianjurkan untuk dilakukan seksio sesarea sebelum atau 4 jam seudah pecahnya ketuban. Seksio sesarre tidak dilakukan secara rutin pada wanita yang menderita herpes genitalis rekurens. Hanya wanita dengan viral shedding pada saat atau hampir melahirkan memerlukan seksio sesarea. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan virologik dan sitologik sejak kehamilan 32 dan 36 minggu. Setelah itu, sekurang-kurangnya setiap minggu dilakukan kultur sekret serviks dan genital eksterna. Bila kultur virus yang diinkubasi minimal 4 hari, memberikan hasil negatif dua kali berturut-turut, serta tidak ada lesi genital pada saat melahirkan, maka dianjurkan partus pervaginam.
            Kontak yang lama dengan sekret infeksius, secara relatif dapat meningkatkan resiko penularan penyakit. Maka lebih baik seksio sesarea dilakukan sebelum atau dalam 4 jam sesudah pecahnya ketuban untuk mencegah bayi ditulaari.
            Pemberian asiklovir pada wanita hamil dapat dipertimbangkan, terutama pada infeksi primer. Episode awal herpes genetalis pada kehamilan dengan gejala yng berat, dianjurkan untuk diberikan asiklovir oral 5 x 200 mg/hari selam 7-10 hari. Asiklovir oral dosis supresif secara rutin tidak dianjurkan untuk herpes genitalis rekurens selama kehamilan atau dekat akhir kehamilan.

Pengobatan pada bayi lahir dari ibu dengan herpes genitalis
            Banyak rumah sakit yang menganjurkan isolasi untuk bayi yang lahir dari ibu dengan herpes genitalis. Kultur virus, pemeriksaan fungsi hati dan cairan serebrospinalis harus dilakukan, serta bayi harus diawasi ketat dalam satu bulan pertama kehidupannya. Spesimen untuk pemeriksaan kultur virus diambil dari konjungtiva,umbilikus, nasofaring, dan setiap lesi kulit yang dicurigai, pada 24-48 jam pertama. Bila ibu mengidap herpes genitalis primer pada saat persalinan pervaginan, harus diberikan profilaksis asiklovir intravena kepada bayi selama 5-7 hari dengan dosis 3 x 10 mg/kgBB/hari.
            Infeksi herpes simpleks pada neonatus prognosisnya buruk bila tidak diobati. Penelitian pengobatan dengan asiklovir 10mg/kgBB/hari tiap 8 jam selama 10-21 hari, atau Ara-A 30 mg/kg BB/hari menurunkan angka kematian dibandingkan dengan penderita yang tidak mendapat pengobatan. Cara pengobatan ini juga dapat mencegah progresivitas penyakit (infeksi herpes pada susunan saraf pusat atau infeksi diseminata).


Pengobatan herpes genitalis pada immunocompromised
            Pada penderita immunocompromised pengobatan infeksi genetalis memerlukan waktu yang lebih lama. Asiklovir oral dapat diberikan dengan dosis 5 x 200 mg – 400 mg/hari selama 5-10 hari.  Untuk penderita infeksi HIV simtomatik atau AIDS, digunakan asiklovir oral 4-5 x 400 mg/hari hingga lesi sembuh, setealh itu dapat diberikan terapi supresif.




























XIII. KONDILOMATA AKUMINATA

DEFINISI
            Kondolomata akuminata (KA) adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Virus Papiloma Humanus (VPH) tipe tertentu dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa. Nama lain dari penyakit ini adalah Genital warts, kutik kelamin, atau penyakit jengger ayam.

GAMBARAN KLINIK
            Masa Inkubasi KA berlangsung antara 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan). VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi kulit sehingga KA sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat berhubungan seksual. Pada pria tempat yang sering terkena adalah glans penis, sulkus koronarius, frenulum dan batang penis, sedangkan pada wanita adalah fourchette posterior, vestibulum.

DIAGNOSIS
            Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pada lesi yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan Tes asam asetat, dengan membubuhkan asm dengan lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Dalam beberapa menit lesi akan berubah warna menjadi putih (acetowhite). Perubahan warna pada lesi di daerah perianal perlu waktu lebih lama (sekitar 15 menit).

PENGOBATAN
            Ada beberapa cara pengobatan KA, yaitu kemoterapi, tindakan bedah dan imunoterapi.
·      Kemoterapi
1.      Tingtur Podofilin. 15% - 25% .  Setelah melindungi kulit di sekitar lesi dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi, oleskan tingtur podofilin pada lesi dan biarkan selama 4- 6 jam, kemusian dicuci. Pemberian obat dilakukan seminggu du kali sampai lesi hilang. Setiap kali pemberian tidak boleh melebihi 0,5 cc karena akan diabsorpsi dan bersifat toksik. Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil.
2.      Podofilotoksin 0,5% (podofiloks). Bahan ini merupakan zat aktif yang terdapat di dalam podofilin. Reaksi iritasi pada pemakaian podofiloks lebih jarang terjadi dibandingkan dengan podofilin. Obat ini dapat dioleskan sendiri oleh penderita sebanyak dua kali sehari selama tiga minggu berturut-turut.
3.      Asam triklorosetat 50%. Pemberiannya seminggu sekali dan harus hati-hati karena dapat mmenimbulkan ulkus dalam. Dapat diberikan pada wanita hamil.
4.      Krim 5-fluorourasil 1-5%. Pemberiannya terutama untuk KA yang terletak di atas meatus uretra. Pemberiannya setiap kali sampai lesi hilang.  
·      Tindakan Bedah
Diantaranya : bedah skalpel, bedah listrik, bedah beku (N2 cair, N2O cair ) dan bedah laser (CO2 laser)
·      Interferon

0 comments:

Post a Comment