25 June 2011

Inkompatibilitas obat

BAB I

PENDAHULUAN


 

    Penelitian baru-baru ini di sejumlah apotek menunjukkan bahwa hampir satu dari empat pasien yang mendapatkan resep pernah mengalami interaksi obat yang berarti pada satu saat tertentu dalam kurun waktu itu. Interaksi demikian telah menimbulkan gangguan yang serius sehingga kadang-kadang menyebabkan kematian. Untunglah jumlah interaksi yang menimbulkan kematian ini hanya sebagian kecil dari jumlah interaksi obat seluruhnya yang terjadi. Yang lebih sering terjadi adalah interaksi yang meningkatkan toksisitas atau turunnya efek terapi pengobatan sehingga pasien tidak merasa sehat kembali atau tidak cepat sembuh sebagaimana seharusnya. Kadang-kadang interaksi sama sekali tidak memberikan symptom yang dapat diamati. Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung kemungkinan tidak terkendalikan sebagaimana mestinya. Jika dokter tidak mengetahui adanya interaksi obat, ia mungkin mengambil keputusan yang salah.

    Obat yang ada saat ini sangat efektif dan sangat berkhasiat. Interaksi yang terjadi merupakan masalah yang besar. Sangatlah sulit bagi seorang dokter atau apoteker yang sibuk untuk meluangkan waktu memantau interaksi obat bagi tiap pasien, walaupun dokter atau apoteker yang bersangkutan sedang mencari berbagai kemungkinan interaksi. Bila disimak masalah ini dan kenyataan bahwa banyak pasien menerima pengobatan ganda termasuk obat bebas yang digunakan sendiri serta banyak dokter atau apoteker sendiri mungkin tidak menyadari interaksi berbahaya pada umumnya. Interaksi obat merupakan suatu kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat. Efek yang dihasilkan bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Biasanya yang terpikir oleh masyarakat adalah reaksi antara satu obat dengan obat lain. Tetapi, interaksi bisa saja terjadi antara obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus. Karena kebanyakan interaksi obat memiliki efek yang tak dikehendaki, umumnya interaksi obat dihindari karena kemungkinan mempengaruhi prognosis. Namun, ada juga interaksi yang sengaja dibuat seperti misalnya pada pemberian probenesid dan penisilin sebelum penisilin dibuat dalam jumlah besar. Contoh interaksi obat yang kini digunakan untuk memberikan manfaat adalah pemberian bersamaan karbidopa dan levodopa (tersedia sebagai karbidopa/levodopa). Levodopa adalah obat antiparkinson dan untuk menimbulkan efek harus mencapai otak dalam keadaan tidak termetabolisme. Bila diberikan sendiri, levodopa dimetabolisme di jaringan tepi di luar otak, sehingga mengurangi efektivitas obat dan malah meningkatkan risiko efek samping. Namun, karena karbidopa menghambat metabolisme levodopa di perifer, lebih banyak levodopa mencapai otak dalam bentuk tidak termetabolisme sehingga resiko efek samping lebih kecil.

Interaksi obat adalah kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat. Efek-efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Biasanya yang terpikir oleh kita adalah antara satu obat dengan obat lain. Tetapi, interaksi bisa saja terjadi antara obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus. Karena kebanyakan interaksi obat memiliki efek yang tak dikehendaki, umumnya interaksi obat dihindari karena kemungkinan mempengaruhi prognosis. Namun, ada juga interaksi yang sengaja dibuat, misal pemberian probenesid dan penisilin sebelum penisilin dibuat dalam jumlah besar. Interaksi obat bisa ditimbulkan oleh berbagai proses, antara lain perubahan dalam farmakokinetika obat tersebut, seperti Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME) obat. Kemungkinan lain, interaksi obat merupakan hasil dari sifat-sfat farmakodinamik obat tersebut, misal, pemberian bersamaan antara antagonis reseptor dan agonis untuk reseptor yang sama.

    Pada kenyataannya banyak kasus kelainan obat terjadi oleh karena Interaksi obat yang tidak dapat digabungkan (bercampur) ataupun digunakan secara bersamaan yang dikenal sebagai inkompatibilitas obat. Inkompatibilitas obat menunjukkan ketidakcampuran suatu obat apabila dicampur dengan molekul obat lain sehingga dapat berpengaruh pada efek yang dihasilkan. Inkompatibilitas obat umumnya merupakan suatu interaksi obat yang tidak diinginkan dan memiliki efek yang merugikan. Hal ini dapat dimisalkan pada penggunaan bersama antibiotika tetrasiklin dengan suatu antasida (yang mengandung kalsium, aluminium, magnesium atau bismuth) yang berdampak pada laju absorpsi dari tetrasiklin menjadi terhambat di dalam tubuh. Sehingga dalam penggunaan obat yang secara bersama-sama tersebut diperlukan juga penanganan dalam menghindari terjadinya inkompatibilitas obat yang dapat merugikan tubuh.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Inkompatibilitas

Inkompatibilitas obat dapat dibagi atas 3 golongan :

    I. Inkompatibilitas terapeutik.

    Inkompatibilitas golongan ini mempunyai arti bahwa bila obat yang satu dicampur/ dikombinasikan dengan obat yang lain akan mengalami perubahan-perubahan sedemikian rupa hingga sifat kerjanya dalam tubuh (in vivo) berlainan daripada yang diharapkan. Hasil kerjanya kadang-kadang menguntungkan, namun dalam banyak hal justru merugikan dan malah dapat berakibat fatal. Sebagai contoh : Absorpsi dari tetrasiklin akan terhambat bila diberikan bersama-sama dengan suatu antasida (yang mengandung kalsium, aluminium, magnesium atau bismuth). Fenobarbital dengan MAO--inhibitors menimbulkan efek potensiasi dari barbituratnya. Kombinasi dari quinine dengan asetosal dapat menimbulkan chinotoxine yang tidak dapat bekerja lagi terhadap malaria. Mencampur hipnotik dan sedatif dengan kafein hanya dalam perbandingan yang tertentu saja rasionilpun harus diperhatikan bahwa mengkombinasikan berbagai antibiotik tanpa indikasi bakteriologis yang layak sebaiknya tidak dianjurkan


 

    II. Inkompatibilitas fisika.

    Yang dimaksudkan di sini adalah perubahan-perubahan yang tidak diinginkan yang timbul pada waktu obat dicampur satu sama lain tanpa terjadi perubahan-perubahan kimia.

Contoh :

  • Meleleh atau menjadi basahnya campuran serbuk.
  • Tidak dapat larut dan obat-obat yang apabila disatukan tidak dapat bercampur secara homogen.
  • Penggaraman (salting out).
  • Adsorpsi obat yang satu terhadap obat yang lain.


 

    III. Inkompatibilitas kimia.

    Yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada waktu pencampuran obat yang disebabkan oleh berlangsungnya reaksi kimia/interaksi. Termasuk di sini adalah :

  • Reaksi-reaksi di mana terjadi senyawa baru yang mengendap.
  • Reaksi antara obat yang bereaksi asam dan basa.
  • Reaksi yang terjadi karena proses oksidasi/reduksi maupun hidrolisa.
  • Perubahan-perubahan warna.
  • Terbentuknya gas dll.


 

B. Interaksi Obat yang berkaitan dengan metabolisme

Banyak interaksi obat disebabkan oleh perubahan dalam metabolisme obat. Satu sistem yang terkenal dalam interaksi metabolisme adalah sistem enzim yang mengandung cytochrome P450 oxidase. Sebagai contoh, ada interaksi obat bermakna antara sipfofloksasin dan metadon. Siprofloksasin dapat menghambat cytochrome P450 3A4 sampai sebesar 65%. Karena ini merupakan enzim primer yang berperan untuk memetabolisme metadon, sipro bisa meninggikan kadar metadon secara bermakna. Sistem ini dapat dipengaruhi oleh induksi maupun inhibisi enzim, sebagaimana dibahas dalam contoh berikut.

Induksi enzim - obat A menginduksi tubuh untuk menghasilkan lebih banyak obat yang memetabolisme obat B. Hasilnya adalah kadar efektif dari obat B akan berkurang, sementara efektivitas obat A tidak berubah. Inhibisi enzim - obat A menghambat produksi enzim yang memetabolisme obat B, sehingga peninggian obat B terjadi dan mungkin menimbulkan overdosis.

Ketersediaan hayati – obat A mempengaruhi penyerapan obat B.

Sayangnya, karena jumlah obat yang beredar di pasar sangat banyak, tidak mungkin bagi perusahaan obat manapun memeriksa profil kompatibilitas obatnya dengan obat lain secara lengkap. Oleh karena itu, klinisi sebaiknya memeriksa dengan seksama informasi peresepan sebelum memberikan obat, khususnya obat yang baru dikenal.


 


 

C. Inkompatibilitas obat IV


    Ada obat injeksi yang tidak kompatibel dengan kandungan larutan infus. Contoh khas adalah natrium bikarbonat dengan Ringer laktat atau Ringer asetat.Untuk mencegah inkompatibilitas, penting dipikirkan bagaimana obat bisa berinteraksi di dalam atau di luar tubuh. Jika anda harus mencampur suatu obat, selalu ikuti petunjuk pabrik seperti volume dan jenis diluen yang tepat; mana larutan yang bisa ditambahkan ke pemberian "piggy back"; dan larutan "bilas" apa yang harus digunakan di antara pemberian suatu produk dan produk lain untuk menghindari kejadian-kejadian, seperti pengendapan di dalam selang infus (sebagai contoh, jangan pernah memberikan fenitoin ke dalam infus jaga yang mengandung dekstrosa, atau jangan campur amphotericin B dengan normal saline). Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya elektrolit (misal. kalium klorida) yang dicampur ke infus kontinyu, misal pada sistem piggyback. Jika ingin mencampur obat dalam spuit untuk pemberian bolus, pastikan obat-obat ini kompatibel di dalam spuit. Jika tidak mendapat informasi dari referensi obat, kontak apoteker. Umumnya apoteker memiliki akses untuk informasi kompatibilitas ini. Waspada dengan obat yang dikenal memiliki riwayat inkompatibilitas bila berkontak dengan obat lain. Contoh-contoh furosemide (Lasix), phenytoin (Dilantin), heparin, midazolam (Versed), dan diazepam (Valium) bila digunakan

D. Kekurangan-kekurangan PVC (Polivinilklorida)

Di samping kompatibilitas obat-obat IV, klinisi perlu mengetahui bahwa beberapa masalah bisa timbul bila menggunakan PVC sebagai wadah untuk larutan infus. Plasticized polyvinyl Klorida (PVC) merupakan bahan polimer yang digunakan secara luas di bidang kedokteran dan yang terkait. Di bidang kedokteran, PVC yang lentur digunakan untuk kantong penyimpan darah, selang transfusi, hemodialisis, pipa endotrakea, infuse set, serta kemasan obat. Ester asam ftalat, terutama di-(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP), merupakan pelentur yang paling disukai di bidang kedokteran. Karena zat aditif ini tidak berikatan kovalen dengan polimerm ada kemungkinan memisah dari matriks. Lepasnya DEHP dari kantong PVC ke dalam larutan sudah bertahun-tahun menimbulkan kekhawatiran. Toksisitas DEHP dan PVC telah mencetuskan pertanyaan serius mengapa produk ini masih digunakan. Pemisahan DEHP dari PVC disebut leaching. Leaching terjadi bila beberapa obat seperti paclitaxel atau tamoxifen diberikan dalam kantong PVC.

Kekhawatiran lain dari penggunaan kantong PVC adalah penyerapan atau "hilang"nya obat dari kantong PVC:

  1. Kowaluk dkk. memeriksa interaksi antara 46 obat suntik dengan kantong infus Viaflex (PVC). Kajian memperlihatkan bahwa derajat penyerapan obat berbanding lurus dengan konsentrasi obat.
  2. Migrasi obat ke dalam kantong plastik bisa mengarah ke penurunan kadar obat di bawah kadar terapi dari insulin, vit A, asetat, diazepam dan nitrogliserin


     

E. Reaksi Maillard

Walaupun bukan merupakan interaksi obat-obat, masalah ini perlu dikemukakan. Reaksi Maillard adalah reaksi kimia antara asam amino dengan gula pereduksi. Biasanya reaksi memerlukan panas. Seperti halnya karamelisasi, ini merupakan bentuk diskolorasi coklat yang bersifat non-enzimatik. Gugus karbonil yang reaktif dari gula bereaksi dengan gugus amino nukleofilik dari asam amino, untuk membentuk berbagai molekul yang menimbulkan berbagai warna dan aroma. Reaksi Maillard terjadi bila asam amino dan glukosa dikandung dalam satu wadah. Karena asam amino dan glukosa intravena perlu diberikan sekaligus, suatu pendekatan yang pintar adalah menghasilkan kantong dengan dua kamar di mana glukosa dan asam amino dipisah. Asam amino dan glukosa dicampur dulu sebelum diberikan ke pasien.


 

F. Bahan pembantu obat (vehicles)

Suatu obat jadi pada umumnya terdiri dari bahan
obat berkhasiat dan bahan pembantu. Inkompatibilitas
obat sering pula diakibatkan oleh bahan pembantu ini. Hal ini terjadi karena bahan pembantu yang digunakan dalam obat jadi jarang dicantumkan pada etiket obat jadi (hanya diketahui oleh produsen saja). Akibatnya di luar pengetahuan dokter yang akan menggunakan obat, khususnya pada waktu dicampur dengan obat lain mungkin timbul kelainan-kelainan yang tidak diinginkan. Kiranya untuk ini dapat diberikan sebuah contoh kasus yang pernah terjadi. Propyl gallate (derivat phenol) merupakan bahan pembantu yang berfungsi sebagai zat antioksidan. Bahan ini sering ditambahkan ke dalam preparat-preparat yang mengandung bahan berkhasiat yang mudah teroksidasi, misalnya preparat oxitetrasiklin injeksi dll. Bila preparat ini dicampur dengan preparat lain yang mengandung zat besi, maka akan terjadi reaksi kimia yaitu terbentuk senyawa baru (besi-phenolat) dan tergantung dari kepekatannya dapat berwarna biru sampai biru tua. Karena larutan obat suntik semula berwarna kuning (oxitetrasiklin), maka larutan akhirnya akan nampak berwarna kehijauan. Peristiwa di atas bisa terjadi melalui pemakaian satu jarum suntik yang sama untuk pengambilan dua jenis preparat secara beruntun.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Interaksi obat adalah kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat. Efek-efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya.
  2. Interaksi obat bisa ditimbulkan oleh berbagai proses, antara lain perubahan dalam farmakokinetika obat tersebut, seperti Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME) obat.
  3. Inkompatibilitas obat menunjukkan ketidakcampuran suatu obat apabila dicampur dengan molekul obat lain sehingga dapat berpengaruh pada efek yang dihasilkan.
  4. Inkompatibilitas obat umumnya merupakan suatu interaksi obat yang tidak diinginkan dan memiliki efek yang merugikan.
  5. Inkompatibilitas obat dapat dibagi atas 3 golongan yaitu Inkompatibilitas Terapeutik, Inkompatibilitas Fisika, dan Inkompatibilitas Kimia.

Inkompatibilitas obat selain disebabkan oleh bahan obat, sering pula diakibatkan oleh bahan pembantu.

0 comments:

Post a Comment