22 June 2012

Uji Kadar Kolesterol Total Serum


Uji Kadar Kolesterol Total Serum
12.1          Tujuan
Untuk menentukan kadar kolesterol total dalam serum.

12.2          Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan dalam penentuan kadar bilirubin baik bilirubin total atau bilirubin direct yaitu Liberman-Burchard.

12.3          Prinsip Pemeriksaan
Kolesterol merupakan sterol yang paling banyak terdapat dalam badan manusia, terutama pada otak, jaringan syaraf, cairan empedu dan darah. Senyawa ini merupakan penyusun utama batu empedu. Kolestrol banyak dijumpai pada lemak binatang, tetapi tidak pernah ditemukan pada lemak tumbuhan. Tumbuhan mempunyai sterol yang disebut fitosterol.

Kolesterol merupakan senyawa yang memiliki inti empat cincin siklopentano – fenantren. Termasuk lemak dengan daya larut yang sangat kecil dalam air. Kadarnya dalam plasma darah 150-200mg/ml, sekitar 2x kadar glukosa darah. Dalam plasma darah 30% berikatan dengan lipoprotein yang mampu menambah daya larutnya dalam darah. Sebanyak 70% lagi kolesterol darah berada berupa kolesterol ester. Kolesterol juga banyak terdapat dalam empedu, dengan kadar 390mg/100ml (Yatim, 2003). Kolesterol tidak larut dalam air tetapi dapat diekstraksi dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena dan alkohol panas. Kolesterol termasuk senyawa steroida dengan rumus C27H45OH.          
Kebanyakan kolesterol diet ada dalam bentuk teresterkan. Esterkolesterol yang ada ditemukan oleh empedu lalu dihidrolisis oleh esterase kolesterol pankreas.
Secara umum kolesterol merupakan derivate lemak yang banyak dijumpai dalam bahan makanan khususnya yang berasal dari hewan. Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan cukup bervariasi tergantung pada jenis dan macam produknya, bahkan kandungan kolesterol pada setiap bagian/organ tubuh hewan pun berbeda- beda. Secara fisiologi kolesterol penting bagi tubuh, karena merupakan bahan penyusun membran sel, sintesis garam empedu dan prasat (precursor) hormon khususnya kelompok hormon steroid. Namun demikian, kelebihan kolesterol dapat menyebabkan timbulnya berbagai gangguan kesehatan, salah satunya adalah atherosclerosis yaitu timbunan kolesterol pada pembuluh darah khususnya pada tunica media arteri. Atherosklerosis merupakan predisposisi infark miokard, stroke, trombosis otak dan penyakit serius lainnya.
Setiap orang memiliki kolesterol di dalam darahnya, di mana 80% diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan. Kolesterol yang diproduksi terdiri atas 2 jenis yaitu :
-          Kolesterol LDL, adalah kolesterol jahat, yang bila jumlahnya berlebih di dalam darah akan diendapkan pada dinding pembuluh darah membentuk bekuan yang dapat menyumbat pembulun darah.
-          Kolesterol HDL, adalah kolesterol baik, yang mempunyai fungsi membersihkan pembuluh darah dari kolesterol LDL yang berlebihan. Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan suatu tanda yang baik sepanjang kolesterol LDL kurang dari 150 mg/dl.
Selain itu ada juga Trigliserida. Lemak ini terbentuk sebagai hasil dari metabolisme makanan, bukan saja yang berbentuk lemak tetapi juga makanan yang berbentuk karbohidrat dan protein yang berlebihan, yang tidak seluruhnya dibutuhkan sebagai sumber energi. Kadar trigliserida ini akan meningkat bila kita mengkonsumsi kalori berlebihan, lebih besar daripada kebutuhan kita.
Kolesterol LDL sering disebut dengan kolesterol ‘jahat’, karena peningkatan kadar kolesterol ini dalam darah dihubungkan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner. Kolesterol LDL akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis. Kolesterol HDL sebaliknya sering disebut dengan kolesterol ‘baik’ karena kolesterol HDL mencegah terjadinya atherosklerosis dengan cara mengeluarkan kolesterol ‘jahat’ dari dinding arteri dan mengirimkannya ke hati. Jadi, bila kadar kolesterol LDL tinggi sedangkan kadar kolesterol HDL rendah maka merupakan faktor resiko terjadinya atherosklerosis. Sebaliknya yang diharapkan adalah kadar kolesterol LDL rendah dan kadar kolesterol HDL yang tinggi.  
Kadar kolesterol baik LDL maupun HDL juga dipengaruhi oleh faktor herediter atau keturunan. Pada pasien dengan familial hypercholesterolemia (FH), terdapat pengurangan jumlah yang signifikan dari reseptor kolesterol LDL dalam hatinya.Pasien ini juga akan rentan menderita atherosklerosis dan serangan jantung pada usia muda. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Lemak dibagi menjadi lemak jenuh dan lemak tak jenuh berdasarkan pada struktur kimianya. Lemak jenuh terutama berasal dari daging dan produk olahan susu yang akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Beberapa minyak tumbuhan yang dibuat dari buah kelapa, sawit, dan cokelat juga tinggi kadar lemak jenuhnya. Menurunkan kadar kolesterol LDL saat ini merupakan fokus utama dalam mencegah atherosklerosis dan serangan jantung. Beberapa dokter dan ahli percaya bahwa keuntungan menurunkan kadar kolesterol LDL antara lain :
-          Mengurangi dan menghentikan pembentukan plak kolesterol pada dinding pembuluh darah.
-          Memperlebar rongga arteri.
-          Mencegah pecahnya plak kolesterol yang mempunyai resiko membentuk gumpalan darah/trombus (faktor resiko stroke)
-          Menurunkan resiko serangan jantung.
-          Menurunkan resiko stroke.
Tubuh kita menggunakan kolesterol untuk membuat:
-          Hormon seks, sangat penting bagi perkembangan dan fungsi organ seksual.
-          Hormon korteks adrenal,m penting untuk metabolisme dan keseimbangan garam dalam tubuh.
-          Vitamin D, penting dalam penyerapan Ca.
-          Garam empedu, membantu usus menyerap lemak.
-          Membran sel dan lapisan luar lipoprotein.
Untuk mengetahui kandungan kolesterol, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengukuran baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari metode yang sederhana sampai metode yang kompleks. Tentu saja setiap metode memiliki kelebihaan dan kekurangan, oleh karena itu dalam tulisan ini akan disajikan pengukuran kadar koleterol dengan metode Lieberman-Burchards yang menggunakan alat spesifik berupa spektrofotometer (Astuti. 2010).      
Pada metode ini, kolesterol total berupa kolesterol bebas dan ester kolesterol diekstraksi. Jumlah kolesterol ditentukan kolorimetris dengan menerapkan reaksi Liebermann-Burchard dan dibandingkan dengan larutan standard kolesterol yang diketahui (Dawiesah, 1989). Reaksi Liebermann-Burchard merupakan dasar penentuan fotometri kolesterol. Cuplikan kolesterol dilarutkan dalam kloroform direaksikan dengan asetat anhidrat dan sedikit asam sulfat pekat akan terjadi pewarnaan yang khas untuk sterol tunggal (Schunack et al., 1990). Pada reaksi Liebermann-Burchard larutan akan berubah warna dengan segera menjadi merah dengan cepat akan menjadi biru-violet (kolekalsiterol kolesterol) dan untuk selanjutnya akan menjadi hijau (ergokalsiferol) (Schunack et al., 1990). Bila kolesterol direaksikan dengan asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat dalam lingkungan bebas air, maka akan terbentuk warna hijau-biru yang intens akibat pembentukan polimer hidrokarbon tak jenuh. Hasil reaksi antara kolesterol dengan pereaksi warna yang membentuk kompleks berwarna hijau biru tersebut diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometri uv-vis. Test ini sangat sensitif terhadap kelembaban. Maka pipet yang digunakan harus dalam keadaan kering (Anonim, 2012).

12.4          Alat dan Bahan
a.      Alat
Tabung reaksi
Pipet ukur
Rak tabung reaksi
Pipet tetes
Pipet mikro
Gelas beaker
Alat spektrofotometri

b.      Bahan
Serum jernih
Pereaksi warna 1 :
0,043 M asam sulfosalisilat dengan asam asetat glasial
Asam sulfat pekat 96%
Pereaksi warna 2 :
Asam asetat anhidrat dalam asam asetat glasial 4:1
Standar kolesterol 250 mg/dL (Bio Analitika®)



12.5          Cara Kerja
Dibuat pereaksi kolesterol dengan mencampur pereaksi warna 1 dan 2 dengan perbandingan 75:25.
Dibuat campuran sebagai berikut:

Tes (ml)
Standar (ml)
Blanko (ml)
Serum
0,05
-
-
Standar
-
0,05
-
Aquades
-
-
0,05
Pereaksi kolesterol
2,5
2,5
2,5
Dicampur dan ditangguhkan selama 5 menit pada suhu 20-250C, lalu ditambahkan asam sulfat pekat sebanyak 0,5 ml pada masing-masing larutan di atas.
Dicampur hingga semua protein larut, ditangguhkan selama 15 menit pada suhu 20-250C, lalu dibaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang pengamatan 610 nm.

12.6          Hasil Pemeriksaan & Interpretasi Hasil
            Hasil Pemeriksaan
           
Tes A
Tes B
Standar
Blanko
Warna setelah penambahan H2SO4
Hijau kekuningan (++)
Hijau kekuningan (+)
Hijau kebiruan (+++)
Bening/jernih (-)
Warna setelah 15 menit
Kuning kecoklatan
Kuning
Coklat kekuningan
Bening kekuningan
Absorbansi (λ=610 nm)
0,073
0,032
0,173
0,000

            Perhitungan
            Dik :
            Absorbansi blanko    = 0,000
            Absorbansi standar   = 0,173
            Absorbansi tes A      = 0,073
            Absorbansi tes B      = 0,032
            Kadar standar           = 250 mg/dL
            Dit :
            Kadar kolesterol pada tes A dan tes B ?
            Jawab :
Test A
Kolesterol total serum A         =
                                                =
                                                = 105,49 mg/dL
Test B
Kolesterol total serum B         =
                                                =
                                                            = 46,24 mg/dL
Interpretasi Hasil
            Kadar kolesterol normal dalam darah adalah 125-250 mg/dL. Berdasarkan data pengamatan hasil perhitungan, didapatkan kadar kolesterol yang lebih rendah dari nilai normal pada serum A dan B, yaitu pada serum A sebesar 105,49 mg/dL dan pada serum B sebesar 46,24 mg/dL. Hasil yang didapat ini menunjukkan hasil yang lebih rendah dari nilai normal. Hal ini mungkin menunjukkan keadaan pasien yang mungkin mengalami hipolipidemia. Namun, hasil ini tidak menunjukkan data pasti karena pada saat pengerjaan, pemipetan serum masih tersisa pada pipet mikro yang digunakan sehingga proses pengencerannya kurang sempurna.

12.7          Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan kadar kolesterol total dalam tubuh dengan metode Libermann-Burchard. Kolesterol adalah komponen asam lemak yang terdapat dalam darah. Zat ini sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses-proses tertentu bagi kelangsungan hidup. Di antaranya untuk membentuk hormon, membentuk sel, dan merawat sel-sel saraf. Sintesis kolesterol sebgain besar terjadi di dalam hati, selain itu terjadi pula di usus halus, kelenjar adrenal dan testis. Di samping itu juga berasal dari makanan yang diabsorbsikan di usus bersama lipid yang lain yang disintesis dalam usus. Kolesterol diangkut dalam lipoprotein plasma baik sebagai kolesterol maupun ester kolesterol. Praktikum tentang pengukuran kadar kolesterol ini bertujuan untuk mengetahui prinsip pengukuran kolesterol tersebut dengan menggunakan metode Lieberman – Burchards dan mengetahui kadar kolesterol dalam serum.
Anhidrid asetat bereaksi dengan kolesterol dalam larutan kloroform  menghasilkan suatu larutan berwarna hijau kebiruan yang karakteristik. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti gugus kromofor yang menimbulkan warna tersebut, namun diduga melibatkan reaksi esterifikasi gugus hidroksi pada posisi ketiga seperti terlihat pada susunan molekulnya. Darah atau serum darah diekstraksi dengan campuran alkohol-aseton yang bertujuan memindahkan kolesterol dan lipida-lipida lain serta mengendapkan protein. Kemudian pelarut organik dievaporasi pada penangas air (waterbath). Residu keringnya kemudian dilarutkan dalam kloroform. Campuran kloroform kemudian ditentukan secara klorimetri menggunakan reagen Lieberman-Burchard. Kolesterol serum darah secara normal berkisar dari 100 – 250 mg/100 ml. Rata-rata jumlah kolesterol dalam serum darah adalah 200 mg/100 ml, pada usia 25 tahun yang lebih lanjut meningkat secara perlahan dengan meningkatnya usia sampai usia 40 – 50 tahun. Wanita umumnya menunjukkan kadar kolesterol yang lebih rendah dari pada pria sampai dicapai saat menopause (Budimarwanti, 2011).
Berdasarkan data pengamatan, diketahui warna larutan setelah ditambahkan asam sulfat pekat adalah hijau kekuningan untuk test A dan B dengan intensitas warna test A lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa kolesterol pada serum telah bereaksi dengan dengan reagen. Dan secara visual menunjukkan adanya kolesterol pada serum tersebut. Kemudian ditangguhkan selama 15 menit agar reaksi yang terjadi lebih optimal untuk memastikan semua kolesterol yang terkandung telah bereaksi. Penentuan kolesterol total secara kuantitatif dilakukan dengan alat spektrofotometer untuk mengetahui kadar kolesterol total dalam serum.
Dari data hasil pengamatan dapat diketahui nilai absorbansi dari masing-masing serum A dan B adalah 0,073 dan 0,032, sedangkan untuk absorbansi standar sebesar 0,173.  Dari perhitungan dengan memasukan nilai absorbansi sampel maka diperoleh kadar kolesterol serum A sebesar 105,49 mg/dL dan pada serum B sebesar 46,24 mg/dL. Nilai ini menunjukkan hasil yang berada di bawah normal (normal 125-250 mg/dL), khususnya untuk serum B yang nilainya jauh di bawah normal. Berdasarkan hasil ini dapat diinterpretasikan kemungkinan hipolipidemia pada pasien. Meskipun demikian, tidak dapat dipastikan hasil ini karena selama pengerjaan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satu contohnya adalah saat pemipetan serum B, masih terdapat sisa serum di dalam pipet mikro, sehingga tidak keseluruhan serum yang terukur kadar kolesterolnya. Tentu dari hal ini akan memberikan pengaruh pada kadar kolesterol yang diperoleh.
Secara fisiologi kolesterol penting bagi tubuh, karena merupakan bahan penyusun membran sel, sintesis garam empedu dan prasat (precursor) hormon khususnya kelompok hormon steroid. Kolesterol disintesis dalam keadaan normal oleh tubuh sejumlah 2 kali dari kadar kolesterol di dalam makanan yang dimakan. Kolesterol yang disintesis diubah menjadi jaringan, hormon dan vitamin yang kemudian beredar ke dalam tubuh melalui darah. Tetapi ada pula kolesterol yang kembali ke dalam hati untuk diubah menjadi garam empedu dan garamnya. Hasil sintesis kolesterol disimpan dalam jaringan tubuh. Tubuh dalam keadaan normal, bila terjadi gangguan dalam konsumsi kolesterol maka akan terjadi mekanisme untuk mempertahankan balance atau keseimbangan kolesterol sebagai mekanisme pertahanan. Namun bila terjadi gangguan dapat berupa penimbunan kolesterol atau derivatnya di arteri menimbulkan penghambatan aliran darah, menyebabkan tekanan darah tinggi dan menyebabkan beberapa penyakit kardiovascular (Linstromberg, 1996). Kadar kolesterol yang rendah memang memiliki tingkat risiko penyakit yang lebih rendah dibandingkan dengan kadar kolesterol yang tinggi. Namun, kadar kolesterol yang rendah tentu harus diperhatikan karena kolesterol memiliki fungsi dalam tubuh, seperti misalnya pembentukan hormon-hormon steroid. Sehingga apabila terjadi penurunan kadar kolesterol dalam tubuh maka dapat menyebabkan penurunan sintesis hormon dan berimplikasi pada gangguan keseimbangan hormon.

0 comments:

Post a Comment